Kamis, 23 Agustus 2012
Sabtu, 21 April 2012
If happy ever after did exist
I'm at a payphone trying to call home
All of my change I spent on you
Where have the times gone
Baby it's all wrong, where are the plans we made for two?
Yeah, I, I know it's hard to remember
The people we used to be
It's even harder to picture
That you're not here next to me
You say it's too late to make it
But is it too late to try?
And in our time that you wasted
All of our bridges burned down
I've wasted my nights
You turned out the lights
Now I'm paralyzed
Still stuck in that time when we called it love
But even the sun sets in paradise
I'm at a payphone trying to call home
All of my change I spent on you
Where have the times gone
Baby it's all wrong, where are the plans we made for two?
If happy ever after did exist
I would still be holding you like this
All those fairytales are full of sh*t
One more stupid love song I'll be sick
You turned your back on tomorrow
Cause you forgot yesterday
I gave you my love to borrow
But just gave it away
You can't expect me to be fine
I don't expect you to care
I know I've said it before
But all of our bridges burned down
I've wasted my nights
You turned out the lights
Now I'm paralyzed
Still stucked in that time when we called it love
But even the sun sets in paradise
I'm at a payphone trying to call home
All of my change I spent on you
Where have the times gone
Baby it's all wrong, where are the plans we made for two?
If happy ever after did exist
I would still be holding you like this
All those fairytales are full of sh*t
One more stupid love song I'll be sick
Now I'm at a payphone...
[Wiz Khalifa]
Man work that sh*t
I'll be out spending all this money while you sitting round
Wondering why it wasn't you who came up from nothing
Made it from the bottom
Now when you see me I'm stunning
And all of my cars start with the push up a button
Telling me the chances I blew up or whatever you call it
Switched the number to my phone
So you never could call it
Don't need my name on my show
You can tell it I'm ballin'
Swish, what a shame could have got picked
Had a really good game but you missed your last shot
So you talk about who you see at the top
Or what you could've saw
But sad to say it's over for
Phantom pulled up valet open doors
Wiz like go away, got what you was looking for
Now ask me who they want
So you can go and take that little piece of sh*t with you
I'm at a payphone trying to call home
All of my change I spent on you
Where have the times gone
Baby it's all wrong, where are the plans we made for two?
If happy ever after did exist
I would still be holding you like this
All those fairytales are full of sh*t
One more stupid love song I'll be sick
Now I'm at a payphone...
Minggu, 05 Februari 2012
Too In Love To Let Go
“Astaga! Ini kenapa lagi, Rin? Kamu berantem lagi sama Arya?” Intan histeris melihat luka memar di sekitar wajah sahabatnya itu. ”Kenapa lo nggak ngelawan sih Rin?! Arya tuh udah keterlalulan loh. Kasar!” Tapi Karin diam, hanya tersenyum perih menahan sakit wajahnya.
Arya dan Karin sudah bersama sejak masuk kuliah, mereka merupakan pasangan senior dan junior yang paling serasi dimata teman-temannya. Arya selalu terlihat mendampingi Karin dalam segala kegiatan, begitu juga sebaliknya. Dengan segala prestasi yang mereka punya, semua menganggap mereka adalah pasangan sempurna. Tapi, tidak banyak orang yang tau bagaimana keadaan sesungguhnya di hubungan mereka, hanya Intan dan Rama—sahabat Karin.
Awal hubungan mereka memang baik, sangat baik, tapi setelah berjalan 2 tahun, Arya mulai menunjukkan sifat aslinya. Tempramental. Arya memang seseorang yang perfeksionis, tidak bisa menerima kritik, posesif dan egois sedangkan Karin tipikal cewek cerdas yang tidak banyak bicara. Tidak heran, Arya sangat mendominasi hubungan mereka. Seperti hari itu, Karin datang ke kampus dengan memar di wajah dan, sudut bibirnya tampak berdarah dan ini bukan yang pertama kalinya. Setiap kali Arya marah, dia hilang kendali dan memukul Karin. Sudah sering Intan dan Rama mengingatkan agar Karin melawan atau bahkan meninggalkan Arya, tapi Karin hanya tersenyum dan selalu punya alasan ”Arya lagi emosi aja”, ”emang aku yang salah kok.” , ”Arya pasti berubah kok.” membela Arya. Selalu!
”Rin? Kamu dimana? Aku jemput, kita makan siang ya.” Hari itu Arya bisa meninggalkan kantor lebih awal. Seperti biasa, dia selalu menyempatkan waktu untuk bertemu Karin. Karin menatap cowok yang sudah mendampinginya 4 tahun terakhir ini. Aku sayang banget sama kamu, Arya. Diluar dari sikap dan sifat Arya yang kasar dan emosian, sebenarnya Arya adalah pribadi yang baik, setia dan menyenangkan. Dia selalu berusaha menjaga orang-orang yang disayanginya, walaupun kadang caranya salah atau membingungkan. Karin selalu menerima Arya apa adanya, semua hal untuk Arya. Karin belajar masak, Karin selalu berpakaian rapi, Karin mengurangi minum soft drink, semua karena Arya.
Sampai hari itu, pekerjaan di kantor Arya sedang kacau. Entah apa yang mengganggu pikirannya sampai tidak bisa konsentrasi dalam menyelesaikan segala pekerjaan kantor. Pulang kerja seperti biasa, Arya selalu menyempatkan diri bertemu Karin. Setelah saling memberi pesan singkat, akhirnya mereka memutuskan langsung bertemu di cafe dekat taman kota. Di Kampus, Karin masih harus menyelesaikan beberapa tugas presentasi yang harus segera dikumpulkan. Berkali-kali Karin menatap jam tangannya, cemas. Karin takut Arya sudah tiba di cafe, sedangkan ia masih terjebak dengan deadline tugas Jalanan di Jakarta disaat jam pulang kantor memang benar-benar melatih kesabaran ditambah dengan hujan deras yang mengguyur. Karin menatap jam tangannya, jam tujuh ia sudah harus ada di cafe taman kota sedangkan bus Transjakarta yang ditumpanginya masih terjebak macet akibat banyak mobil-mobil yang mengambil jalur bus. Telfon Karin bergetar, tanda pesan masuk. Arya.
Udah dmn? 15 menit lg aku sampe.
Karin menghela nafas, memandang jalanan disekitarnya. Memutar otak mencari cara agar bisa tiba di cafe dalam waktu 10 menit, masih ada 2 halte lagi sebelum pemberhentian seharusnya. Karin pasti terlambat, ia memutuskan untuk turun di halte selanjutnya dan naik ojek. Hujan lebat ia hiraukan. Di otaknya hanya Arya. Karin melesat dengan ojeknya, di arah berlawanan, sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Ojek yang Karin naiki, berusaha menghindar dan terpeleset akibat jalanan yang licin karena hujan. Karin terlempar ke pinggir jalanan.
Rama menatap kotak itu. Kado untuk Karin. Ulang tahun Karin memang masih lama, itu hanya sebuah hadiah ’persahabatan’ yang Rama pesan dari seorang teman yang kebetulan designer aksesoris. Sebuah kalung cantik bertuliskan ’Karina’ terlihat indah di dalam kotak itu. Sebuah pesan singkat dari Intan masuk ke ponselnya.
Karin kecelakaan. RSPI skrg!
Tubuh Karin terbaring lemah di rumah sakit. Kondisinya kritis. Ia kehilangan banyak darah, beruntung Karin sampai di rumah sakit tepat waktu, jika tidak, nyawanya tak tertolong. Arya berlari menuju kamar ICU. Rama dan Intan duduk di depan ruang rawat dengan wajah cemas. Rama berdiri dan menarik Arya emosi. ”Ini semua salah lo! Bajingan!” Rama menarik kerah Arya, geram. ”kalo aja lo gak nyuruh Karin buru-buru ke cafe, dia gak bakal kecelakaan!” Intan memisahkan perkelahian itu. Dokter Mona keluar dari ruang ICU, menjelaskan keadaan terakhir dari Karin. Kondisinya masih kritis, benturan di kepalanya cukup keras. Karin koma.
Dua minggu berlalu, Karin masih dalam koma. Kecelakaan Karin menjadi titik balik bagi Arya. Ia terus menjaga Karin dirumah sakit, menyesali segala sikap kasarnya. Arya menggenggam tangan Karin erat. Berdoa untuk kesembuhan Karin. ”Maafin aku, Rin. Rama bener, ini semua salahku. Seandainya aku nggak egois, minta kamu dateng nemuin aku di cafe. Kamu pasti gak gini. Maafin aku ya, Rin.” air mata Arya jatuh membasahi tangan Karin. ”Bangun dong, Rin. Aku sayang kamu.” Karin merespon. Jari tangannya mulai bergerak, matanya perlahan terbuka. Ia berbisik lirih memanggil nama Arya. Kondisi Karin kian membaik, setidaknya sudah melewati masa komanya.
Hari itu Rama datang, memandang wajah pucat sahabatnya itu yang tertidur. Karin, if only you let me love you..more than just friends. Rama menghela nafas. Meletakkan buah yang ia bawa. Karin terbangun.
”Hey, Ram..” ucapnya lirih. Rama tersenyum. ”udah lama ya?”
”Enggak kok, baru sampe. Gimana keadaan lo?”
”Mendingan sih, masih pusing tapi.”
”Oya, Rin, i got something for you.” Rama mengeluarkan kotak merah.
”Wow, apa tuh? Dalam rangka apa juga nih?” Karin tertawa kecil.
”This is for you.” sebuah kalung dengan tulisan ’Karina’ diberikan Rama. ”dipake ya. Di simpen juga gakpapa deh kalo gak mau dipake.”
”Are you kidding me, Ram? Ini bagus banget loh. Makasih ya! Pasti gue pake kok.” Karin pun langsung memakai kalung itu. ”Rin, can i ask you something?” tanya Rama ragu. Karin menatapnya, menanti kelanjutan pertanyaannya. ”Kenapa sih lo nggak ninggalin Arya?” Karin terlihat bingung dengan pertanyaan sahabatnya itu. ”I mean, lo selalu di atur, dia kasar, kadang mukul. Apa lo nggak capek? Lo sekarang kayak gini juga karena dia..” Karin tersenyum.
”Bukan salah Arya, Ram. Totally my fault. Harusnya gue gak maksa naik ojek, udah tau jalanan licin. Dan kalo lo tanya kenapa gue bertahan sama Arya, well, i know I'm going to get my heart broken. But, I’ve been by his side for far too long to just let him go. I just cant. Gue sayang sama Arya.” Tanpa Karin sadari, Arya berdiri dibalik pintu kamarnya dan mendengar semua itu. Hati Arya sakit. Menyesal. Rama sadar, ia tidak akan pernah lebih dari sekedar sahabat bagi Karin. Hati Karin hanya satu dan itu untuk Arya. Rama pamit pulang, berpapasan dengan Arya di depan kamar rawat.
”Ram, maafin gue. Gue baru sadar kalo Karin adalah hal paling berharga yang pernah gue sia-siain. Makasih lo udah nyadarin gue.” Ucap Arya, gentle. Rama menepuk bahunya. Tersenyum simpul.
”Lo harus jaga Karin. Jangan ada lagi air mata Karin yang keluar sia-sia karena lo. Gue cabut!” Rama pergi. Sejak saat itu, hubungan Karin dan Arya berubah. Arya menjadi sosok yang lebih lembut dan pengertian. Awalnya Karin bingung dengan perubahan ini, tapi Ia sadar, perubahan Arya adalah buah dari kesabarannya menjalani hubungan itu.
Awal hubungan mereka memang baik, sangat baik, tapi setelah berjalan 2 tahun, Arya mulai menunjukkan sifat aslinya. Tempramental. Arya memang seseorang yang perfeksionis, tidak bisa menerima kritik, posesif dan egois sedangkan Karin tipikal cewek cerdas yang tidak banyak bicara. Tidak heran, Arya sangat mendominasi hubungan mereka. Seperti hari itu, Karin datang ke kampus dengan memar di wajah dan, sudut bibirnya tampak berdarah dan ini bukan yang pertama kalinya. Setiap kali Arya marah, dia hilang kendali dan memukul Karin. Sudah sering Intan dan Rama mengingatkan agar Karin melawan atau bahkan meninggalkan Arya, tapi Karin hanya tersenyum dan selalu punya alasan ”Arya lagi emosi aja”, ”emang aku yang salah kok.” , ”Arya pasti berubah kok.” membela Arya. Selalu!
”Rin? Kamu dimana? Aku jemput, kita makan siang ya.” Hari itu Arya bisa meninggalkan kantor lebih awal. Seperti biasa, dia selalu menyempatkan waktu untuk bertemu Karin. Karin menatap cowok yang sudah mendampinginya 4 tahun terakhir ini. Aku sayang banget sama kamu, Arya. Diluar dari sikap dan sifat Arya yang kasar dan emosian, sebenarnya Arya adalah pribadi yang baik, setia dan menyenangkan. Dia selalu berusaha menjaga orang-orang yang disayanginya, walaupun kadang caranya salah atau membingungkan. Karin selalu menerima Arya apa adanya, semua hal untuk Arya. Karin belajar masak, Karin selalu berpakaian rapi, Karin mengurangi minum soft drink, semua karena Arya.
Sampai hari itu, pekerjaan di kantor Arya sedang kacau. Entah apa yang mengganggu pikirannya sampai tidak bisa konsentrasi dalam menyelesaikan segala pekerjaan kantor. Pulang kerja seperti biasa, Arya selalu menyempatkan diri bertemu Karin. Setelah saling memberi pesan singkat, akhirnya mereka memutuskan langsung bertemu di cafe dekat taman kota. Di Kampus, Karin masih harus menyelesaikan beberapa tugas presentasi yang harus segera dikumpulkan. Berkali-kali Karin menatap jam tangannya, cemas. Karin takut Arya sudah tiba di cafe, sedangkan ia masih terjebak dengan deadline tugas Jalanan di Jakarta disaat jam pulang kantor memang benar-benar melatih kesabaran ditambah dengan hujan deras yang mengguyur. Karin menatap jam tangannya, jam tujuh ia sudah harus ada di cafe taman kota sedangkan bus Transjakarta yang ditumpanginya masih terjebak macet akibat banyak mobil-mobil yang mengambil jalur bus. Telfon Karin bergetar, tanda pesan masuk. Arya.
Udah dmn? 15 menit lg aku sampe.
Karin menghela nafas, memandang jalanan disekitarnya. Memutar otak mencari cara agar bisa tiba di cafe dalam waktu 10 menit, masih ada 2 halte lagi sebelum pemberhentian seharusnya. Karin pasti terlambat, ia memutuskan untuk turun di halte selanjutnya dan naik ojek. Hujan lebat ia hiraukan. Di otaknya hanya Arya. Karin melesat dengan ojeknya, di arah berlawanan, sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Ojek yang Karin naiki, berusaha menghindar dan terpeleset akibat jalanan yang licin karena hujan. Karin terlempar ke pinggir jalanan.
Rama menatap kotak itu. Kado untuk Karin. Ulang tahun Karin memang masih lama, itu hanya sebuah hadiah ’persahabatan’ yang Rama pesan dari seorang teman yang kebetulan designer aksesoris. Sebuah kalung cantik bertuliskan ’Karina’ terlihat indah di dalam kotak itu. Sebuah pesan singkat dari Intan masuk ke ponselnya.
Karin kecelakaan. RSPI skrg!
Tubuh Karin terbaring lemah di rumah sakit. Kondisinya kritis. Ia kehilangan banyak darah, beruntung Karin sampai di rumah sakit tepat waktu, jika tidak, nyawanya tak tertolong. Arya berlari menuju kamar ICU. Rama dan Intan duduk di depan ruang rawat dengan wajah cemas. Rama berdiri dan menarik Arya emosi. ”Ini semua salah lo! Bajingan!” Rama menarik kerah Arya, geram. ”kalo aja lo gak nyuruh Karin buru-buru ke cafe, dia gak bakal kecelakaan!” Intan memisahkan perkelahian itu. Dokter Mona keluar dari ruang ICU, menjelaskan keadaan terakhir dari Karin. Kondisinya masih kritis, benturan di kepalanya cukup keras. Karin koma.
Dua minggu berlalu, Karin masih dalam koma. Kecelakaan Karin menjadi titik balik bagi Arya. Ia terus menjaga Karin dirumah sakit, menyesali segala sikap kasarnya. Arya menggenggam tangan Karin erat. Berdoa untuk kesembuhan Karin. ”Maafin aku, Rin. Rama bener, ini semua salahku. Seandainya aku nggak egois, minta kamu dateng nemuin aku di cafe. Kamu pasti gak gini. Maafin aku ya, Rin.” air mata Arya jatuh membasahi tangan Karin. ”Bangun dong, Rin. Aku sayang kamu.” Karin merespon. Jari tangannya mulai bergerak, matanya perlahan terbuka. Ia berbisik lirih memanggil nama Arya. Kondisi Karin kian membaik, setidaknya sudah melewati masa komanya.
Hari itu Rama datang, memandang wajah pucat sahabatnya itu yang tertidur. Karin, if only you let me love you..more than just friends. Rama menghela nafas. Meletakkan buah yang ia bawa. Karin terbangun.
”Hey, Ram..” ucapnya lirih. Rama tersenyum. ”udah lama ya?”
”Enggak kok, baru sampe. Gimana keadaan lo?”
”Mendingan sih, masih pusing tapi.”
”Oya, Rin, i got something for you.” Rama mengeluarkan kotak merah.
”Wow, apa tuh? Dalam rangka apa juga nih?” Karin tertawa kecil.
”This is for you.” sebuah kalung dengan tulisan ’Karina’ diberikan Rama. ”dipake ya. Di simpen juga gakpapa deh kalo gak mau dipake.”
”Are you kidding me, Ram? Ini bagus banget loh. Makasih ya! Pasti gue pake kok.” Karin pun langsung memakai kalung itu. ”Rin, can i ask you something?” tanya Rama ragu. Karin menatapnya, menanti kelanjutan pertanyaannya. ”Kenapa sih lo nggak ninggalin Arya?” Karin terlihat bingung dengan pertanyaan sahabatnya itu. ”I mean, lo selalu di atur, dia kasar, kadang mukul. Apa lo nggak capek? Lo sekarang kayak gini juga karena dia..” Karin tersenyum.
”Bukan salah Arya, Ram. Totally my fault. Harusnya gue gak maksa naik ojek, udah tau jalanan licin. Dan kalo lo tanya kenapa gue bertahan sama Arya, well, i know I'm going to get my heart broken. But, I’ve been by his side for far too long to just let him go. I just cant. Gue sayang sama Arya.” Tanpa Karin sadari, Arya berdiri dibalik pintu kamarnya dan mendengar semua itu. Hati Arya sakit. Menyesal. Rama sadar, ia tidak akan pernah lebih dari sekedar sahabat bagi Karin. Hati Karin hanya satu dan itu untuk Arya. Rama pamit pulang, berpapasan dengan Arya di depan kamar rawat.
”Ram, maafin gue. Gue baru sadar kalo Karin adalah hal paling berharga yang pernah gue sia-siain. Makasih lo udah nyadarin gue.” Ucap Arya, gentle. Rama menepuk bahunya. Tersenyum simpul.
”Lo harus jaga Karin. Jangan ada lagi air mata Karin yang keluar sia-sia karena lo. Gue cabut!” Rama pergi. Sejak saat itu, hubungan Karin dan Arya berubah. Arya menjadi sosok yang lebih lembut dan pengertian. Awalnya Karin bingung dengan perubahan ini, tapi Ia sadar, perubahan Arya adalah buah dari kesabarannya menjalani hubungan itu.
Langganan:
Postingan (Atom)