Kamis, 16 Oktober 2014

Harapan Tentang Bahagia

Waktu terus bergulir, hari besar yang ku nanti akan segera datang. Ya, hari bahagiaku. Hari pernikahanku. Kurang dari 20 hari lagi! Aku terlalu senang, tak sabar menantikan moment terpenting itu.

Sejak kecil, menikah adalah mimpi terbesarku, mempunyai keluarga kecil, anak-anak yang lucu, suami yang menyayangiku, ah.. semua begitu indah dalam anganku. Lalu aku beranjak remaja, melihat banyak kehancuran dan airmata dalam keluarga orangtuaku. Perpisahan yang meninggalkan luka bagiku dan adikku. Pernikahan tak lagi seindah anganku dulu. Semua sandiwara hidup, tersenyum palsu di depan orang lain, dan tak perduli pada pasangannya ketika sudah kembali kerumah. Aku benci keluargaku yang hancur. Mereka merusak anganku. Beberapa orang yang sempat mengisi hatiku,tak mampu meyakinkan aku bahwa masih ada harapan bahwa angan masa kecilku tentang pernikahan yang indah bisa terjadi.

Aku kini beranjak dewasa, dimana topik pernikahan menjadi hal yang menjadi "headline" di hampir setiap pembicaraan. Pertanyan semacam "kapan nikah?" sudah bosan kudengar. Satu persatu teman yang ku kenal mulai menikah. Semakin sering pula kudengar "kapan nyusul?" Hahh.. entahlah. sekian lama aku berfikir, mencoba berhubungan dengan beberapa orang, mencari sosok 'itu'. Sosok yang bisa membuatku kembali menata anganku tentang bahagia tapi nihil. Aku sudah tak ingin mencari. Aku akan memfokuskan pikiranku pada hidupku, bukan jodohku.

Tuhan memang lucu. Disaat aku tak ingin lagi mencari, Tuhan kirimkan seorang pria diluar dugaanku, dengan cara yang luar biasa. Awalnya memang tak jauh berbeda dengan yang lainnya.. tapi, setelah ia bertemu mamaku, ada sesuatu yang lain dalam dirinya entah apa, tapi aku bisa merasakannya.. baru kali ini mama bisa berucap sangat yakin "mama yakin, kamu bisa sampe menikah sama dia. Anaknya baik, mama suka." Jangan tanya bagaimana reaksiku! Aku diam. Kaget. Selama ini tak pernah sekalipun mama memberi restu di hari pertama perkenalan. Luar biasa! Lelaki ini memang luar biasa.

Ya,kami akhirnya menjalin hubungan. Sebulan, dua bulan, tiga bulan... waktu terus bergulir tanpa terasa hubungan ini semakin serius. Semakin banyak obrolan tentang hidup dan masa depan. Semakin ku pelajari sifatnya, aku semakin nyaman dan yakin bahwa ia adalah lelaki yang tepat. Ia adalah sosok "itu", yang memberiku harapan tentang arti bahagia. Hubungan kami bukan tanpa masalah, banyak pasang surut kami lalui. Tawa, tangis, amarah, kecewa, benci, semua kami rasakan.. Kami bertahan dan berhasil melaluinya!! Alhamdulillah...

Dua tahun sudah hubungan kami berjalan, kami pun memutuskan untuk melanjutkan hubungan ini ketahap selanjutnya. Pertunangan. Jalan menuju pertunangan pun tak mudah. Banyak drama dan air mata dalam persiapannya. Maklum saja, kondisi keluargaku yang berantakan, memperkeruh keadaan. Dan lagi lagi, alhamdulillah kami mampu melaluinya. Bulan Mei penuh bahagia. Bertunangan dengan lelaki yang ku pilih sekaligus merayakan ulang tahunku.

Kami hanya punya waktu 5 bulan untuk mempersiapkan hari besar kami. Segala sesuatu segera kami siapkan, mulai dari menentukan tanggal dan hari baik, mencari gedung, menghubungi vendor, dll kami lakukan bersama. Kami semakin kompak! Lagi-lagi jalan kami tak selalu mulus... berbagai masalah harus kami hadapi. Tak jarang masalah persiapan justru memicu pertengkaran diantara kami. Saat seperti itulah yang ku benci! Merasa sendirian. Aku sudah cukup merasakan pedih dan sakit sendiri ketika melihat kehancuran keluargaku, aku sama sekali tak ingin mengalaminya lagi. Terlalu banyak yang harus kami selesaikan disela kesibukan kami bekerja. Tingkat stress pun semakin tinggi. Pertengkaran menjadi sulit dihindari. Tangis pun tak bisa terbendung. Setiap malam aku hanya bisa menangisi keadaan kami yang terasa semakin jauh disaat hari bahagia itu semakin dekat. Pikiran negatif pun tak ayal sering muncul dibenakku. Pertanyaan "benarkah dia adalah sosok 'itu'?" Beberapa kali terlintas diotak penuh emosiku. Lalu segera ku hapus dan kembali kuyakinkan hati bahwa "ya! Dia pilihanku! Dia lelakiku. Calon suami ku."

Saat ini, menghitung hari menuju hari bahagia itu, aku masih menangisinya. Menangisi hubungan kami yang terasa semakin jauh, menangisi kesendirianku tanpa pegangan. Apa aku yang terlalu mencintai? Sehingga kadang aku tak perduli betapa sakitnya yang akan kudapatkan, yang ku perdulikan hanya kelangsungan hubungan kami. apakah aku kurang pengertian? Apa aku membuatnya jenuh? Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku hanya ingin semua kembali normal. Aku tau ini tak mudah, tapi sesuatu yang berharga memang tak bisa didapat dengan instan kan?

Aku hanya bisa berdoa semoga Tuhan membukakan hati kami berdua. Menguatkan kami agar bisa melewati semuanya bersama, agar cita cita tentang keluarga yang bahagia itu terwujud, agar hati kami yang jauh kembali didekatkan dan agar kami ingat bahwa kami saling mencintai. Amin.

Aku tak perduli betapa sulit dan betapa banyaknya cobaan yang harus kita hadapi. Bagiku tak ada yang lebih mengerikan daripada kehilangan kamu. Kehilangan harapanku. Kuharap kita bertahan.

Aku sayang kamu.

Senin, 29 September 2014

Sneakpeek #AyangAgungWedding ♥

"I dont care how hard being together is, nothing worse than being apart."

Kamis, 24 Juli 2014

Lupa

"Merasa dicintai sebegitunya, kadang membuat kita berlaku seenaknya, lupa, bahwa Ia bisa pergi kapan saja."

Apa aku mencintai dia sebegitunya? Sehingga berulang-ulang aku berada diposisi ini. Atau hanya aku si bodoh yang terus-terusan membuatnya jengkel? Tapi kupikir semua orang bisa berbuat salah, dan semua orang pantas memaafkan atau dimaafkan. Bukan maksudku mengungkit apa yang sudah pernah terjadi, tapi rasanya tak pernah sama bagaimana aku menyikapi kesalahannya dan bagaimana dia menyikapi kesalahanku. ya, mungkin itu karena aku yang terlalu mencintainya. aku bahkan lupa bagaimana cara membencinya.

seperti saat ini, aku hanya bisa menangisi sikapnya yang sudah berhari-hari mendiamkanmu. seakan tak perduli dengan apa yang terjadi padaku. bagaimana keseharianku, dimana aku, dengan siapa, apa aku baik-baik saja atau apapun tentangku dia tampak tak perduli, sedangkan aku terus-terusan berusaha mencairkan suasana, menanyakan kabarnya, bahkan mengajaknya berbicara walaupun yang kudapat hanya sepatah dua patah kata, atau bahkan tak di gubrisnya sama sekali,

apa yang terjadi pada kami?
hari pernikahan semakin dekat, tapi masalah yang datang tak kunjung usai. lagi dan lagi. entahlah, mungkin memang sudah seharusnya kami mengalami masa sulit seperti ini untuk menguji kekuatan kami sebagai pasangan yang akan menikah. Cobaan menikah -katanya. tapi apalah artinya ini kalau cara menyikapinya masih sama seperti saat pacaran di bulan bulan awal?

toh dia masih dengan caranya yang cooling down dengan diam, tanpa mau berinteraksi denganku. dan aku yang terus terusan memohon agar kondisi kembali normal. dia mungkin lupa kalau aku juga layaknya manusia lain, punya batas kesabaran. entah kapan kesabaran itu habis, yang pasti disaat itu habis, entah apa yang akan terjadi. aku bisa saja bertindak gila diluar nalar. siapa yang tau?

aku mencintainya sebegitunya. ya, memang.
aku bahkan tak bisa membencinya walau ia pernah menyakitiku, dalam,
aku pasti akan luluh saat dia menggenggam tanganku atau memelukku,
aku semudah itu memaafkannya.
ya, aku memang mencintainya sebegitunya,

Jumat, 13 Juni 2014

One step closer. Alhamdulillah.

Galeri SK, 17 May 2014
Engagement Day of Ayang & Agung



Sabtu, 26 April 2014

Aku & Mereka.

Ini bukan hanya tentang cinta.
Tapi tentang bagaimana menyatukan banyak perbedaan.
Ini bukan hanya tentang kita.
Tapi tentang 2 keluarga yang ingin di persatukan.
Ini bukan hanya tentang pengertian.
Tapi tentang toleransi dan batas kesabaran.

Semua orang ingin dimengerti.
Semua orang ingin dihotmati.
Semua orang punya porsi.
Dan semua orang punya batas.

Bukan sekedar memilih A dan B.
Bukan sekedar menjawab Ya atau Tidak.
Tapi banyak kajian mengapa memilih.

Aku hanya seorang anak.
Ya, mereka orang tua.

Semua orang tua merasa memiliki hidup anaknya.
Semua orang tua merasa punya hak atas hidup anaknya.
Semua orang tua merasa tahu apa yang terbaik bagi anaknya.
Semua orang tua merasa harus membahagiakan anaknya, dengan cara apapun.

Tapi mungkin mereka lupa.

Anak memiliki hidupnya sendiri.
Anak memiliki hak dan kewajibannya sendiri.
Anak bisa berfikir tentang baik buruk sebuah pilihan.
Anak selalu berusaha menyenangkan hati orang tuanya.

Aku bukan tidak menyayangi mereka. Aku mencintai mereka. Aku tidak akan bisa menulis ini sekarang kalau bukan karena mereka. Aku hanya ingin mereka mengerti. Seharusnya mereka melihatku. Anak yang selama ini mungkin menyimpan banyak kecewa terhadap mereka, hanya saja aku tak pernah mengungkapkan kekecewaan itu. Aku yang menjadi dewasa sebelum waktunya. Aku yang dipaksa berfikir jauh dari usiaku. Aku ini hanya ingin bahagia dan membahagiakan mereka kok.

Aku mulai muak dengan segala drama yang ada. Demi Tuhan, sekali ini saja jangan paksa aku jadi pemeran di drama kalian. Sudah cukup belasan tahun aku selalu jadi penengah semua drama kekerasan kalian. Drama roman picisan yang berakhir perpisahan. Saat itu, kupikir perpisahan adalah cara terbaik menyudahin drama itu. Tapi ternyata aku salah, tidak berhenti, drama pun berlanjut hingga detik ini. Kali ini bukan saling tusuk di medan perang, tapi perang dingin. Mulut yang lebih tajam dari belati.

Siapa yang harus mendengar & memisahkan? Ya. Aku.

Dan sekarang, disaat akhirnya aku cukup dewasa untuk memilih jalanku sendiri.. lagi lagi aku harus berurusan dengan masalah yang sama. Mereka & ego nya masing masing. Sekali lagi aku harus menjadi korban mereka. Aneh, bukan aku yang berperang tapi mengapa selalu aku yang berdarah dan terluka? Atas nama sakit hati, mereka saling membela diri meminta pengertian dariku agar dapat pembelaan. Mungkin mereka lupa, bukan hanya mereka yang terluka dan ingin dimengerti.

Hey.. ada aku disitu! Ada aku saat kalian bertengkar. Ada aku melihat segalanya. Jangan bicara sakit hati dan kedewasaan padaku. Rasanya tak pantas walau mereka orang dewasa, kelakuannya tidak mencerminkan itu.

Ku mohon, sekali ini saja. Aku mohon. Jangan kacaukan rencana bahagiaku. Jangan kacaukan kisahku. Jangan samakan aku dengan kalian. Menikah bukan sebuah mimpi buruk seperti yang kalian alami, aku percaya itu. Jadi, biarkan aku merajut kisahku sendiri. Aku hanya memohon restu dan doa tulus untuk kebahagiaanku kelak. Jangan rusak mimpiku dangan ego kalian. Ku mohon, kali ini dengarkan aku. Coba pahami aku. Kali ini coba tatap mataku, rasakan sakit yang selama ini ku pendam. Sembuhkan luka ini dengan membiarkan aku bahagia dengan caraku.

Aku menyayangi dia. Aku memilihnya untuk mendampingi aku.

Aku mencintai kalian.

-A

Selasa, 25 Maret 2014

Rabu, 05 Februari 2014

Itu kamu.

Aku bukan orang yang sempurna, kau pun begitu. Tapi seorang bijak pernah berkata, "tidak ada orang yang sempurna, sampai ku jatuh cinta padanya." Dan aku percaya itu, sekarang disaat aku memilihmu mendampingi hari-hariku, kamu terlihat sempurna. Kamu mampu membuatku memaafkan segala salahmu. Aku bahkan tidak bisa marah padamu terlalu lama. Aku terlalu rindu.

Kadang aku berfikir "apa aku terlalu naif? Apa aku terlalu bodoh karena terlalu mencintaimu?" Aku tidak bisa melihat hal lain, kecuali kamu. Aku mengesampingkan sifat dan sikap burukmu. Yg ku lihat hanya seorang laki-laki yang baik, penyayang, pekerja keras, bertanggung jawab... dan diluar semua itu, aku melihat kamu sebagai lelaki yang kusayangi.

Kamu bukan tidak pernah menyakitiku. Pernah. Dan itu sangat membekas di hati, mungkin bahkan tidak bisa aku lupakan. Aku pernah ingin meninggalkanmu. Hampir membencimu. Kecewa padamu. Lalu, aku ingin menyerah... tapi disaat itulah aku berfikir "aku menyerah sekarang? Lalu mengapa aku bertahan selama ini?" Aku mencari alasan mengapa aku bertahan. Dan semua kembali ke 1 kata. Kamu.

Aku pun pernah mengecewakanmu. Aku akui itu. Aku pernah membuatmu muak dan bahkan mungkin ingin meninggalkanku. Aku sadar bahwa aku hanya seorang perempuan manja dan banyak mau. Tidak bisa di atur, keras kepala, tapi diluar semuanya aku harap kamu bisa melihatku sebagai perempuan yang sangat menyayangimu.

Aku memang bukan yang terbaik yang pernah kamu miliki, tapi 1 hal yang pasti adalah aku menyayangimu, mencintaimu dengan tulus dan sepenuh hati. Dan kamu tidak akan menemukan lagi perempuan yang mencintaimu seperti yang ku lakukan.