Bekerja di cafe
bukan cita-cita Alila saat Ia memutuskan untuk meninggalkan Jogja dan merantau
ke Jakarta. Bukan tidak mencintai Jogja, tanah kelahirannya, tapi Alila tidak
bisa menunggu Radit lebih lama lagi. Setelah memohon Ibu dan Bapak untuk bisa
kuliah di Jakarta, Alila merantau, berusaha mencari Radit. Tidak banyak
informasi yang Ia punya untuk mencari sahabat kecilnya itu, hanya sebuah
alamat. Tapi ketika Alila sampai di Jakarta dan mendatangi alamat itu, keluarga
Radit tidak tinggal lagi disana. Kecewa. Namun sudah terlambat untuk Alila
kembali ke Jogja.
Sudah setahun,
Alila bekerja di cafe untuk tambahan biaya hidupnya di Jakarta. Biaya hidup di
Jakarta memang jauh berbeda dengan Jogja, apalagi dengan segala kerterbatasan
keluarganya, uang bulanan yang dikirim oleh orang tuanya hanya bisa untuk
kebutuhan pokok kosan, belum jajan, belum biaya tak terduga. Bekerja di cafe
ternyata menyenangkan, melihat banyak tipe orang. Ada pasangan, ada kumpulan
ibu-ibu highclass arisan, anak muda, atau eksekutif muda yang mengadakan
meeting santai disana. Selalu menyenangkan memperhatikan tingkah laku mereka.
Tapi diantara semua itu, Alila selalu menanti pelanggan favoritenya, Tama.
Setiap kali Tama memasuki cafe, Alila sudah siap di depan kasir untuk melayani,
bahkan Alila sudah hafal apa yang akan dipesan oleh Tama. Caramel Macchiato.
”Selamat siang,
bisa dibantu?” sapa Alila ramah.
”Siang, saya
minta-” Tama melihat daftar menu yang ada.
”Caramel
Macchiato?” potong Alila. Tama tersenyum manis.
”Haha, saya udah
terlalu sering kesini ya? Sampe’ hafal gitu.” Alila tersenyum. ”Iya, Caramel
Macchiato nya 1 ya, makasih Mbak-” dilihatnya nametag dibaju Alila. ”Alila.”
Tama selalu duduk di tempat yang sama, datang di waktu yang sama, dan duduk
sendiri menikmati matahari yang mulai lelah bersinar. Terkadang ada seorang
wanita yang menemaninya, entah itu siapa, tapi terlalu tua untuk menjadi
pacarnya. Wanita itu sering membawa tumpukan file dan menjelaskan isi file
tersebut. Rekan kerja mungkin.
Kesibukannya
kuliah sambil bekerja, tidak membuat Alila lupa akan tujuan utamanya pindah ke
Jakarta, yaitu mencari Radit. Semua sudah Ia lakukan untuk mendapatkan
informasi tentang keberadaan Radit. Dari semua teman Radit di Jakarta yang
dihubunginya, hanya Barli yang berhasil Ia temui. Barli adalah teman SMA Radit.
Tapi setelah lulus, Barli tidak pernah lagi mendengar kabar darinya. Ada yang
bilang, Radit melanjutkan kuliah di luar negeri. Alila mulai putus asa,
kehabisan akal apalagi yang harus Ia lakukan untuk bisa bertemu Radit.
”Kenapa Radit
harus pergi tinggalin Alila? Radit marah ya sama Alila?”
”Nggak kok, Radit
harus ikut Ayah ke Jakarta. Radit janji, Radit akan balik lagi ke Jogja untuk
temenin Alila. Alila mau kan tunggu Radit pulang?” Alila mengangguk. Kelingking
mereka pun terpaut. ”Janji ya, tunggu Radit.”Aku selalu pegang janji aku, Dit. Aku selalu tunggu kamu. Air mata
membasahi pipi Alila, selalu seperti ini setiap Ia mengingat Radit. Saat itu
Alila masih kelas 4 SD, sedangkan Radit kelas 1 SMP, tapi semua masih terekam
jelas diingatan Alila. Barli memandang Alila dari kejauhan, tidak tega melihat
Alila terus menerus larut dalam kesedihan. Dadanya sesak. Gue harus bisa nemuin Radit! Demi Alila.
Hari berganti
minggu, minggu berganti bulan, Barli belum menemui titik terang dari
pencariannya. Alila masih menjalani harinya seperti biasa, kuliah dan bekerja.
Sore itu seharusnya Tama datang ke cafe, tapi tidak hari ini. Sampai waktu
bekerja Alila habis, Tama tidak juga muncul di cafe. Kemana dia? Alila berjalan pulang, Barli tidak bisa menjemputnya
hari ini. Langit malam itu tampak terang dihiasi bintang, sesuatu yang jarang
terjadi di Jakarta mengingat polusi sudah semakin parah. Alila duduk di taman
dekat cafe, menikmati malam itu.
”Bagus ya, langit
malem ini?” Alila terkejut mendengar
suara itu. Alila melihat
sekitarnya, tidak ada siapapun kecuali dirinya di taman.
”Siapa itu?!”
”Hantu.. hihihi”
Suara itu terdengar familiar di telinga Alila. Tapi siapa?
“Ngaak lucu!
Norak!” Alila mengambil tas,
dan beranjak pergi.
“Galak juga ya
ternyata mbak Alila..” Tama! Itu suara Tama. BUK!! Tama loncat dari atas pohon. “Dor!” Alila
terkejut.
“Ka-kamu? Ngapain
kamu diatas pohon gitu?”
“Hmm, ngapain ya?
Cuma ngeliatin langit aja, dari atas sana kerasa lebih deket. Kamu mau pulang,
Al?” Tanya Tama ramah. Alila mengangguk. ”Aku anter yuk.”
”Wah, enggak
usah. Aku bisa pulang sendiri kok, lagian nggak jauh juga.” Alila melangkah
pergi meninggalkan Tama. ”Makasih ya udah nawarin.”
Sejak malam itu,
Tama dan Alila sering menghabiskan waktu diluar jam kerja cafe. Kekosongan di
hati Alila sejak kepergian Radit, mulai terisi oleh Tama. Setiap kali melihat
mata Tama, Alila merasa tenang dan nyaman, persis seperti ketika Ia bersama
Radit. Hari-hari Alila kembali ceria, senyumnya kembali mengembang.
Barli terdiam,
pikirannya kacau. Sebuah fakta tentang Radit telah ia dapatkan, tapi ini bukan
yang Ia harapkan. Tidak untuknya, apalagi untuk Alila. Gimana cara ngasih tau Alila tentang ini? Barli melihat perubahan
dalam diri Alila sejak Ia mengenal Tama. Walaupun Barli senang melihat Alila
bahagia dan kembali ceria, tapi disudut hatinya, ada rasa sakit yang ia
rasakan. Barli tidak ingin merusak kebahagiaan Alila dengan fakta yang Ia
punya. Alila baru bisa senyum, apa harus
gue kasih tau? Gue gak mau liat Alila nangis lagi. Gue
sayang sama lo, Al, seandainya lo tau itu.
Tama membuka
laptop nya, memandangi foto Alila. Lo
bener-bener cewek spesial, Al. Nggak heran Radit sayang banget sama lo. Tiba-tiba kepala Tama sakit, matanya
berdenyut. Ketika tersadar, Ia sudah ada di rumah sakit.
”Masih pusing,
Tam?” tanya dokter Nova sambil memeriksanya. Tama hanya mengangguk kecil. “Kamu
nggak boleh memforsir kerja mata kamu. Semua masih butuh latihan dan adaptasi
yang nggak sebentar. Kalo di forsir, gini akibatnya.” Tama diam.
Hari itu Alila
libur bekerja, Ia menghabiskan waktu bersama Barli. Sudah lama Ia tidak
bertukar cerita dengan Barli sambil menikmati ice cream kesukaannya. Alila
senang mempunyai seseorang seperti Barli, dia selalu bisa membuat Alila tertawa
dengan segala tingakah konyolnya.
”Al, kamu masih
suka inget Radit?” tanya Barli tiba-tiba. Alila berhenti menikmati ice
cream strawberry-nya. Pandangannya lurus kedepan, pikirannya menerawang. “Aku
nggak bermaksud bikin kamu sedih loh, Al.”
“Radit itu
sahabat kecil aku, Bar. Pangeran masa kecil aku. Aku nggak akan pernah bisa
ngelupain dia. Aku sayang sama dia. Kamu bisa liat, aku rela merantau sendirian
ke Jakarta hanya untuk nyari Radit.” Alila menghela nafas panjang. ”Makasih
banget ya, Bar. Kamu selalu nemenin aku, bantuin aku nyari Radit. Ya, walaupun
sia-sia. Tapi aku seneng bisa kenal kamu.” Alila tersenyum tulus.
”Hmm, Al,
sebenernya ada sesuatu yang mau aku kasih tau.” Barli mengatur setiap kata yang
keluar dari mulutnya. Alila tampak menunggu kalimat selanjutnya. ”Ikut aku,
yuk.” Alila bingung, ia sama sekali tidak tau akan dibawa kemana.
Mobil Barli berhenti di depan TPU. Perasaan Alila mulai
tidak enak, mulai muncul banyak pertanyaan di benakknya. Barli berjalan
menggenggam tangan Alila, menuju sebuah makam. Alila menangis, terduduk setelah
membaca nama yang tertera di batu nisan itu : Raditya Akbar Hadiwijaja. Barli memeluk erat tubuh mungil Alila.
Tangis Alila semakin keras, Ia tidak menyangka Radit meninggalkannya.
”Radit, kenapa
kamu tinggalin aku? Kamu janji mau pulang.” ucapnya dalam tangis. ”Aku selalu
pegang janji aku, aku tunggu kamu.” Barli memegang pundaknya.
”Radit nggak
bohong, Al. Aku yakin kok, Radit berusaha pegang janjinya. Tapi takdir berkata
lain, Tuhan punya rencana lain.” Mereka meninggalkan TPU. Selama perjalanan,
Alila diam. Barli tidak mengarahkan mobil pulang, tapi menuju rumah sakit.
Alila tetap diam,
mengikuti langkah Barli ke dalam salah satu kamar di rumah sakit itu.
Pikirannya masih mengambang, dadanya masih sakit mengingat Radit. Di tempat
tidur kamar itu, terbaring Tama. Apalagi
ini? Kenapa Tama? Barli menarik tangan Alila. Tama tersenyum melihat
kehadiran Alila.
”Hai, cantik.”
sapa Tama. ”Kaget ya? Barli udah cerita semua.” Alila masih bingung dengan apa
yang terjadi. Ditatapnya Barli.
”Ada satu hal
lagi yang kamu harus tau, Al. Tentang Radit.” Barli duduk disamping tempat
tidur Tama. ”Biar Tama aja yang jelasin, ya.” Alila diam, berdiri menatap kedua cowok
dihadapannya itu.
“Waktu aku
kuliah, aku kecelakaan. Parah banget, sampe aku kehilangan pengelihatan aku. Aku
buta total. Saat itu aku bener-bener depresi, aku menyendiri, aku berenti
kuliah, aku bahkan nggak mau keluar kamar.” Alila menyimak cerita Tama, Ia
duduk di tepi tempat tidur Tama. ”Tapi suatu hari, aku dapet kabar dari rumah
sakit, kalo ada orang yang bersedia mendonorkan matanya. Aku nggak bisa menahan
bahagia. 2 minggu setelahnya, aku operasi dan berhasil. Aku sangat berterima
kasih sama orang yang mendonorkan matanya ini, tapi pihak rumah sakit nggak
ngizinin aku tau siapa orangnya.” Tama menghela nafas panjang. ”Sebulan setelah
operasi, aku mulai sering mengalami hal aneh, mimpi-mimpi yang sama setiap
malemnya. Kamu tau apa, Al?” Alia menggelengkan kepala, tanpa kata. ”Aku selalu
mimpiin 2 orang anak kecil, duduk di sebuah pendopo. Yang cewek lagi nangis,
dan yang cowok keliatan berusaha nenangin sampe’ akhirnya mereka berjanji
sesuatu. Aku nggak bisa denger apa yang mereka bicarain.” Tama berhenti
sejenak. Alila menitikan air matanya. Itu
aku dan Radit. ”Mimpi itu terus
aku alami sampai beberapa bulan. Tapi sejak aku liat kamu di cafe¸ mimpi itu
berubah. Anak perempuan di mimpi aku itu, berubah, udah dewasa, dan itu kamu,
Al. Aku akhirnya mencari tau tentang semuanya, aku yakin ada hubungannya dengan
operasi mata aku. Akhirnya aku tau, orang yang mendonorkan matanya adalah
Radit. Tapi saat aku coba datengin rumahnya, ternyata Radit meninggal
dikecelakaan kereta menuju Jogja, beberapa hari sebelum aku operasi.” Lanjut
Tama.
”Radit nepatin
janjinya.” bisik Alila pelan. ”Dia mau pulang dan nemuin aku di Jogja. Radit
nggak bohong, Bar.” Alila memeluk Barli sambil menangis. Tidak heran setiap
kali Alila bersama Tama, Ia merasa Radit juga ada di dekatnya, karena mata yang
memandangnya adalah mata yang sama yang selalu ingin dilihatnya.
Radit akan selalu
jadi bagian hidup Alila, selamanya. Meskipun tidak lagi berada di dunia yang
sama, tapi Alila bersyukur, Ia sudah mendapatkan jawaban dari segala pertanyaan
di hatinya. Radit tidak pernah berbohong, Ia selalu ingin menepati janjinya
pada Alila meskipun takdir berkata lain. Aku
akan selalu sayang sama kamu, Dit. Kamu tetap pangeran kecil aku.