Senin, 08 Agustus 2011

Behind Those Eyes

Bekerja di cafe bukan cita-cita Alila saat Ia memutuskan untuk meninggalkan Jogja dan merantau ke Jakarta. Bukan tidak mencintai Jogja, tanah kelahirannya, tapi Alila tidak bisa menunggu Radit lebih lama lagi. Setelah memohon Ibu dan Bapak untuk bisa kuliah di Jakarta, Alila merantau, berusaha mencari Radit. Tidak banyak informasi yang Ia punya untuk mencari sahabat kecilnya itu, hanya sebuah alamat. Tapi ketika Alila sampai di Jakarta dan mendatangi alamat itu, keluarga Radit tidak tinggal lagi disana. Kecewa. Namun sudah terlambat untuk Alila kembali ke Jogja.

Sudah setahun, Alila bekerja di cafe untuk tambahan biaya hidupnya di Jakarta. Biaya hidup di Jakarta memang jauh berbeda dengan Jogja, apalagi dengan segala kerterbatasan keluarganya, uang bulanan yang dikirim oleh orang tuanya hanya bisa untuk kebutuhan pokok kosan, belum jajan, belum biaya tak terduga. Bekerja di cafe ternyata menyenangkan, melihat banyak tipe orang. Ada pasangan, ada kumpulan ibu-ibu highclass arisan, anak muda, atau eksekutif muda yang mengadakan meeting santai disana. Selalu menyenangkan memperhatikan tingkah laku mereka. Tapi diantara semua itu, Alila selalu menanti pelanggan favoritenya, Tama. Setiap kali Tama memasuki cafe, Alila sudah siap di depan kasir untuk melayani, bahkan Alila sudah hafal apa yang akan dipesan oleh Tama. Caramel Macchiato.
”Selamat siang, bisa dibantu?” sapa Alila ramah.
”Siang, saya minta-” Tama melihat daftar menu yang ada.
”Caramel Macchiato?” potong Alila. Tama tersenyum manis.
”Haha, saya udah terlalu sering kesini ya? Sampe’ hafal gitu.” Alila tersenyum. ”Iya, Caramel Macchiato nya 1 ya, makasih Mbak-” dilihatnya nametag dibaju Alila. ”Alila.” Tama selalu duduk di tempat yang sama, datang di waktu yang sama, dan duduk sendiri menikmati matahari yang mulai lelah bersinar. Terkadang ada seorang wanita yang menemaninya, entah itu siapa, tapi terlalu tua untuk menjadi pacarnya. Wanita itu sering membawa tumpukan file dan menjelaskan isi file tersebut. Rekan kerja mungkin.

Kesibukannya kuliah sambil bekerja, tidak membuat Alila lupa akan tujuan utamanya pindah ke Jakarta, yaitu mencari Radit. Semua sudah Ia lakukan untuk mendapatkan informasi tentang keberadaan Radit. Dari semua teman Radit di Jakarta yang dihubunginya, hanya Barli yang berhasil Ia temui. Barli adalah teman SMA Radit. Tapi setelah lulus, Barli tidak pernah lagi mendengar kabar darinya. Ada yang bilang, Radit melanjutkan kuliah di luar negeri. Alila mulai putus asa, kehabisan akal apalagi yang harus Ia lakukan untuk bisa bertemu Radit.
”Kenapa Radit harus pergi tinggalin Alila? Radit marah ya sama Alila?”
”Nggak kok, Radit harus ikut Ayah ke Jakarta. Radit janji, Radit akan balik lagi ke Jogja untuk temenin Alila. Alila mau kan tunggu Radit pulang?” Alila mengangguk. Kelingking mereka pun terpaut. ”Janji ya, tunggu Radit.”Aku selalu pegang janji aku, Dit. Aku selalu tunggu kamu. Air mata membasahi pipi Alila, selalu seperti ini setiap Ia mengingat Radit. Saat itu Alila masih kelas 4 SD, sedangkan Radit kelas 1 SMP, tapi semua masih terekam jelas diingatan Alila. Barli memandang Alila dari kejauhan, tidak tega melihat Alila terus menerus larut dalam kesedihan. Dadanya sesak. Gue harus bisa nemuin Radit! Demi Alila.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, Barli belum menemui titik terang dari pencariannya. Alila masih menjalani harinya seperti biasa, kuliah dan bekerja. Sore itu seharusnya Tama datang ke cafe, tapi tidak hari ini. Sampai waktu bekerja Alila habis, Tama tidak juga muncul di cafe. Kemana dia? Alila berjalan pulang, Barli tidak bisa menjemputnya hari ini. Langit malam itu tampak terang dihiasi bintang, sesuatu yang jarang terjadi di Jakarta mengingat polusi sudah semakin parah. Alila duduk di taman dekat cafe, menikmati malam itu.
”Bagus ya, langit malem ini?” Alila terkejut mendengar suara itu. Alila melihat sekitarnya, tidak ada siapapun kecuali dirinya di taman.
”Siapa itu?!”
”Hantu.. hihihi” Suara itu terdengar familiar di telinga Alila. Tapi siapa?
“Ngaak lucu! Norak!” Alila mengambil tas, dan beranjak pergi.
“Galak juga ya ternyata mbak Alila..” Tama! Itu suara Tama. BUK!! Tama loncat dari atas pohon. “Dor!” Alila terkejut.
“Ka-kamu? Ngapain kamu diatas pohon gitu?”
“Hmm, ngapain ya? Cuma ngeliatin langit aja, dari atas sana kerasa lebih deket. Kamu mau pulang, Al?” Tanya Tama ramah. Alila mengangguk. ”Aku anter yuk.”
”Wah, enggak usah. Aku bisa pulang sendiri kok, lagian nggak jauh juga.” Alila melangkah pergi meninggalkan Tama. ”Makasih ya udah nawarin.”
Sejak malam itu, Tama dan Alila sering menghabiskan waktu diluar jam kerja cafe. Kekosongan di hati Alila sejak kepergian Radit, mulai terisi oleh Tama. Setiap kali melihat mata Tama, Alila merasa tenang dan nyaman, persis seperti ketika Ia bersama Radit. Hari-hari Alila kembali ceria, senyumnya kembali mengembang.

Barli terdiam, pikirannya kacau. Sebuah fakta tentang Radit telah ia dapatkan, tapi ini bukan yang Ia harapkan. Tidak untuknya, apalagi untuk Alila. Gimana cara ngasih tau Alila tentang ini? Barli melihat perubahan dalam diri Alila sejak Ia mengenal Tama. Walaupun Barli senang melihat Alila bahagia dan kembali ceria, tapi disudut hatinya, ada rasa sakit yang ia rasakan. Barli tidak ingin merusak kebahagiaan Alila dengan fakta yang Ia punya. Alila baru bisa senyum, apa harus gue kasih tau? Gue gak mau liat Alila nangis lagi. Gue sayang sama lo, Al, seandainya lo tau itu.

Tama membuka laptop nya, memandangi foto Alila. Lo bener-bener cewek spesial, Al. Nggak heran Radit sayang banget sama lo. Tiba-tiba kepala Tama sakit, matanya berdenyut. Ketika tersadar, Ia sudah ada di rumah sakit.
”Masih pusing, Tam?” tanya dokter Nova sambil memeriksanya. Tama hanya mengangguk kecil. “Kamu nggak boleh memforsir kerja mata kamu. Semua masih butuh latihan dan adaptasi yang nggak sebentar. Kalo di forsir, gini akibatnya.” Tama diam.

Hari itu Alila libur bekerja, Ia menghabiskan waktu bersama Barli. Sudah lama Ia tidak bertukar cerita dengan Barli sambil menikmati ice cream kesukaannya. Alila senang mempunyai seseorang seperti Barli, dia selalu bisa membuat Alila tertawa dengan segala tingakah konyolnya.
”Al, kamu masih suka inget Radit?” tanya Barli tiba-tiba. Alila berhenti menikmati ice cream strawberry-nya. Pandangannya lurus kedepan, pikirannya menerawang. “Aku nggak bermaksud bikin kamu sedih loh, Al.”
“Radit itu sahabat kecil aku, Bar. Pangeran masa kecil aku. Aku nggak akan pernah bisa ngelupain dia. Aku sayang sama dia. Kamu bisa liat, aku rela merantau sendirian ke Jakarta hanya untuk nyari Radit.” Alila menghela nafas panjang. ”Makasih banget ya, Bar. Kamu selalu nemenin aku, bantuin aku nyari Radit. Ya, walaupun sia-sia. Tapi aku seneng bisa kenal kamu.” Alila tersenyum tulus.
”Hmm, Al, sebenernya ada sesuatu yang mau aku kasih tau.” Barli mengatur setiap kata yang keluar dari mulutnya. Alila tampak menunggu kalimat selanjutnya. ”Ikut aku, yuk.” Alila bingung, ia sama sekali tidak tau akan dibawa kemana.

Mobil Barli berhenti di depan TPU. Perasaan Alila mulai tidak enak, mulai muncul banyak pertanyaan di benakknya. Barli berjalan menggenggam tangan Alila, menuju sebuah makam. Alila menangis, terduduk setelah membaca nama yang tertera di batu nisan itu : Raditya Akbar Hadiwijaja. Barli memeluk erat tubuh mungil Alila. Tangis Alila semakin keras, Ia tidak menyangka Radit meninggalkannya.
”Radit, kenapa kamu tinggalin aku? Kamu janji mau pulang.” ucapnya dalam tangis. ”Aku selalu pegang janji aku, aku tunggu kamu.” Barli memegang pundaknya.
”Radit nggak bohong, Al. Aku yakin kok, Radit berusaha pegang janjinya. Tapi takdir berkata lain, Tuhan punya rencana lain.” Mereka meninggalkan TPU. Selama perjalanan, Alila diam. Barli tidak mengarahkan mobil pulang, tapi menuju rumah sakit.

Alila tetap diam, mengikuti langkah Barli ke dalam salah satu kamar di rumah sakit itu. Pikirannya masih mengambang, dadanya masih sakit mengingat Radit. Di tempat tidur kamar itu, terbaring Tama. Apalagi ini? Kenapa Tama? Barli menarik tangan Alila. Tama tersenyum melihat kehadiran Alila.
”Hai, cantik.” sapa Tama. ”Kaget ya? Barli udah cerita semua.” Alila masih bingung dengan apa yang terjadi. Ditatapnya Barli.
”Ada satu hal lagi yang kamu harus tau, Al. Tentang Radit.” Barli duduk disamping tempat tidur Tama. ”Biar Tama aja yang jelasin, ya.” Alila diam, berdiri menatap kedua cowok dihadapannya itu.

“Waktu aku kuliah, aku kecelakaan. Parah banget, sampe aku kehilangan pengelihatan aku. Aku buta total. Saat itu aku bener-bener depresi, aku menyendiri, aku berenti kuliah, aku bahkan nggak mau keluar kamar.” Alila menyimak cerita Tama, Ia duduk di tepi tempat tidur Tama. ”Tapi suatu hari, aku dapet kabar dari rumah sakit, kalo ada orang yang bersedia mendonorkan matanya. Aku nggak bisa menahan bahagia. 2 minggu setelahnya, aku operasi dan berhasil. Aku sangat berterima kasih sama orang yang mendonorkan matanya ini, tapi pihak rumah sakit nggak ngizinin aku tau siapa orangnya.” Tama menghela nafas panjang. ”Sebulan setelah operasi, aku mulai sering mengalami hal aneh, mimpi-mimpi yang sama setiap malemnya. Kamu tau apa, Al?” Alia menggelengkan kepala, tanpa kata. ”Aku selalu mimpiin 2 orang anak kecil, duduk di sebuah pendopo. Yang cewek lagi nangis, dan yang cowok keliatan berusaha nenangin sampe’ akhirnya mereka berjanji sesuatu. Aku nggak bisa denger apa yang mereka bicarain.” Tama berhenti sejenak. Alila menitikan air matanya. Itu aku dan Radit. ”Mimpi itu terus aku alami sampai beberapa bulan. Tapi sejak aku liat kamu di cafe¸ mimpi itu berubah. Anak perempuan di mimpi aku itu, berubah, udah dewasa, dan itu kamu, Al. Aku akhirnya mencari tau tentang semuanya, aku yakin ada hubungannya dengan operasi mata aku. Akhirnya aku tau, orang yang mendonorkan matanya adalah Radit. Tapi saat aku coba datengin rumahnya, ternyata Radit meninggal dikecelakaan kereta menuju Jogja, beberapa hari sebelum aku operasi.” Lanjut Tama.

”Radit nepatin janjinya.” bisik Alila pelan. ”Dia mau pulang dan nemuin aku di Jogja. Radit nggak bohong, Bar.” Alila memeluk Barli sambil menangis. Tidak heran setiap kali Alila bersama Tama, Ia merasa Radit juga ada di dekatnya, karena mata yang memandangnya adalah mata yang sama yang selalu ingin dilihatnya.
Radit akan selalu jadi bagian hidup Alila, selamanya. Meskipun tidak lagi berada di dunia yang sama, tapi Alila bersyukur, Ia sudah mendapatkan jawaban dari segala pertanyaan di hatinya. Radit tidak pernah berbohong, Ia selalu ingin menepati janjinya pada Alila meskipun takdir berkata lain. Aku akan selalu sayang sama kamu, Dit. Kamu tetap pangeran kecil aku.

Minggu, 07 Agustus 2011

You Can't Keep What's Not Yours


Bagi Karel konsistensi dalam suatu hubungan jauh lebih penting daripada harus berkomitmen, karena saat kita menjalani hubungan secara konsisten, itu merupakan bentuk komitmen kita pada orang tersebut. Seperti hubungannya dengan Taya. Sudah 2 tahun mereka menjalani konsistensi hubungan. Karel tidak pernah mau terikat oleh status atau komitmen, cukup kepercayaan dan konsistensi.

Perkenalan mereka terjadi saat Taya diminta Ayah untuk mengantar dokumen penting yang tertinggal ke kantor. Karel adalah Marketing Manager di kantor Ayah, salah satu pegawai favorite Ayah karena kinerjanya yang sangat baik. Siang itu Taya bergesa-gesa mengantar dokumen untuk Ayah karena sudah ditunggu editor majalah tempatnya bekerja. Deadline. Taya berlari kearah ruangan Ayah dan tidak sengaja menabrak Karel yang baru saja membuat kopi, alhasil kemeja biru Karel berubah hitam noda kopi.
“Aduh! Maaf banget ya, Mas. Maaf banget, saya enggak sengaja. Saya buru-buru banget nih soalnya. Deadline~” Taya sibuk membersihkan kemeja Karel dengan tissue.
“Lain kali kalo jalan, mata juga dipake yang bener.” Ucap Karel ketus sambil berlalu pergi, meninggalkan Taya terbengong-bengong. Dih! Siapa sih dia? Songong banget gayanya! Belagu! Sampai diruangan Ayah, Taya langsung menanyakan siapa cowok belagu tadi. Belum sampai Ayah menjawab, pintu ruangan terbuka, Karel masuk memegang beberapa dokumen yang harus ditandatangani oleh Ayah. Karel melihat Taya, tanpa senyum. Setelah semua dokumen ditandatangani, Karel pamit pergi, ”Oh iya, Rel, sudah kenal dengan anak saya?” Ayah melihat Taya. ”Kenalan dong Ta, ini Karel.”

Sejak saat itu mereka sering bertemu dan menjadi semakin akrab hingga akhirnya hubungan ini berjalan 2 tahun. Tidak pernah ada istilah menyatakan perasaan, semua dijalani apa adanya. Pernah Taya menanyakan tentang hubungan mereka, Karel hanya menjawab, ”Aku nyaman ada di dekat kamu, kita sama-sama berbuat baik satu sama lain. Status bukan segalanya, Tay. Kalo emang serius, cukup jalanin secara konsisten dan saling percaya aja.” Taya diam. Tidak mudah bagi Taya menjalani semua ini, dia harus belajar menerima Karel dengan pola pikirnya yang aneh itu tapi seiring berjalannya waktu Taya mulai mengerti maksud Karel. Tanpa komitmen dan status, mereka bebas mengungkapkan apa yang mereka rasakan, bebas bergaul dengan siapapun tanpa harus ada yang merasa cemburu, tidak harus meminta izin siapapun untuk melakukan apapun, tidak harus ada kebohongan atau sakit hati.

Sifat Taya yang supel dan periang, membuatnya mudah dekat dengan siapapun. Tidak heran banyak cowok yang berusaha mendekatinya. Tapi Taya menanggapinya santai, semua teman baginya. Berbeda dengan Taya yang supel dan periang, Karel cenderung diam dan sibuk dengan dunianya sendiri. Karel seorang workaholic, baginya kesuksesan itu adalah dari diri sendiri dan harus dihasilkan oleh keringatnya sendiri. Dia terbiasa mendapatkan apapun dengan usahanya sendiri. Itu yang membuat cewek tergila-gila dengan sosok suami idaman seperti Karel.

Tidak pernah ada masalah berarti dalam hubungan mereka, karena semua tidak pernah diambil pusing oleh keduanya. Namun semua itu berubah saat Abel, cinta pertama Taya pulang ke Indonesia setelah melanjutkan studi dan bekerja di German selama 5 tahun. Kepulangan Abel membuat Karel berubah. Entah kenapa, Karel mulai merasa tersaingi. Abel terlihat sangat akrab dengan Taya. Waktu Taya kini habis untuk menemani Abel, mulai dari mencari apartement, dan mengurus keperluannya di Indonesia hingga sekedar menikmati sore di cafe.

Taya mulai merasakan perubahan pada diri Karel. Sikap Karel kini berbeda, dia cenderung sinis dan tidak mau tau dengan segala rutinitas Taya. Padahal biasanya, walaupun tidak mendapatkan kabar 24jam dari Taya, tapi Karel selalu terlihat antusias mendengar cerita keseharian Taya. Tidak hanya itu, sekarang Karel banyak menolak ajakan Taya. Tidak makan siang bersama, tidak ke café, tidak ke acara kantor, Karel mulai menjaga jarak. Taya menyerah, dia membiarkan Karel menikmati kesendiriannya.

Karel termakan oleh prinsipnya sendiri, dia merasa posisinya direbut oleh Abel. Lebih parah, dia merasa bahwa Abel telah merebut Taya darinya. Gue enggak boleh mikir gini, Taya bukan pacar gue. Taya punya hak jalanin hidupnya dengan siapapun! Ayo, Rel, ini semua lo yang bikin! Sadar dong! Karel berusaha melawan pikiran dan perasaannya sendiri. Dia tidak bisa menyalahkan Taya, karena sejak awal inilah perjanjian mereka. Konsistensi tanpa komitmen, artinya masing-masing punya hak pribadi yang tidak bisa dicampuri.
Bukan hanya Taya yang merasakan perubahan Karel, Ayah pun begitu. Karel sering murung di kantor, pekerjaannya jadi tidak fokus. ”Karel, duduk dulu sebentar, saya mau bicara.” Karel memeriksa dokumen yang baru selesai ditandatangani oleh Ayah, takut ada yang salah. ”Bukan tentang pekerjaan.” lanjut Ayah.
”Oh, ada apa ya, Pak?”
“Hmm, begini, belakangan ini saya perhatikan, kamu sering murung di kantor. Bekerja jadi tidak fokus, apa kamu sedang ada masalah? Mungkin di keluarga, kantor atau di ligkungan pertemananmu?” Karel tertunduk, menghela nafas.
”Enggak ada kok, Pak. Semua baik-baik saja. Maaf kalo belakangan saya enggak fokus, cuma kecapean aja kok.” Elaknya.
”Apa ada hubungannya dengan Taya dan kepulangan Abel? Saya perhatikan sejak Abel pulang, kamu dan Taya jadi jarang bersama. Ada masalah?”
”Wah, bukan kok Pak. Taya juga lagi sibuk, saya juga masih banyak pekerjaan, jadi emang agak susah ketemu aja.” Iya, Pak. Saya mulai mencintai anak bapak.
”Yasudah kalau begitu, jangan sampai masalah pribadi mengganggu pekerjaan di kantor ya. Dan.. saya juga berharap hubungan kamu dengan Taya baik-baik saja. Saya percaya, kamu bisa menjaga Taya.” Karel pamit dari ruangan Ayah. Kata-kata Ayah membuatnya semakin keras berfikir. Apa gue siap kehilangan Taya? Gue nggak boleh kehilangan Taya. Gue harus dapetin Taya lagi!

Taya memandangi fotonya bersama Karel, ada rasa rindu dalam hatinya. Sejak ada Abel, Taya sulit bertemu Karel, bahkan sekedar menelfon saja, tidak sempat. Lusa adalah hari ulang tahunnya. Taya berharap Karel tidak lupa, dan bisa menyempatkan hadir. Karel tidak pernah tau apa yang Taya rasakan, bagaimana Taya selalu berusaha menjaga janjinya untuk menjalankan konsistensi dalam hubungannya dengan Karel. Walaupun kadang sulit untuk Taya bersikap acuh terhadap apapun yang Karel lakukan, atau saat dia harus menahan cemburu pada cewek-cewek yang berusaha mendekati Karel. Dia selalu berusaha mengerti pola pikir Karel yang abstrak, karena Taya tidak mau kehilangan Karel.

Rumah Taya tampak ramai oleh tamu undangan ulang tahunnya, teman, sahabat, kerabat dan kolega kantor Ayah juga hadir untuk merayakan ulang tahun Taya ke 25. Abel sudah datang, tapi bukan Abel yang ditunggu oleh Taya. Beberapa kali Taya coba menghubungi Karel, tapi sia-sia, handphone Karel tidak aktif. Malam semakin larut, acara harus tetap berjalan. Lilin angka 25 tahun sudah menyala, semua bersorak menyanyikan lagu untuk Taya, tapi dia masih gelisah, matanya terus menyapu sekelilingnya. Mencari sosok Karel. Sia-sia. “Ayo tiup lilinnya! Make a wish dulu!” seru beberapa teman. Taya memejamkan mata, menyebutkan permohonannya dalam hati. Ya Tuhan, aku ingin Karel bisa mendampingi aku saat ini dan selamanya. Saat Taya membuka matanya, Karel tersenyum simpul di hadapannya. Taya tersenyum lega. Setelah pembagian kue, semua kembali menikmati acara.

Taya berjalan menghampiri Karel yang duduk di tepi kolam renang. Tapi tiba-tiba Abel menarik tangan Taya. ”Tay, tunggu. Aku mau ngomong sama kamu. Penting.” dari kejauhan, Karel memperhatikan apa yang sedang terjadi.
”Aduh, sebentar ya, Bel. Aku harus ketemu Karel sebentar. Tunggu ya nanti aku-”
”Tapi ini penting banget, Tay.” Abel menatap mata Taya, menggenggam tangannya. Taya mengalihkan pandangan kearah kolam renang, tapi Karel sudah tidak ada. Ah! Kemana Karel?
“Oke, ada apa Bel?” Taya mulai kesal. Belum sempat Abel menjawab, sebuah video terpasang. Video berisi foto-foto kebersamaan Karel dan Taya. Semua terkemas indah dalam video itu. Taya tak mampu menahan harunya.

Karel muncul dari arah layar video. “Mungkin aku adalah orang paling bodoh karena memaksa kamu mengikuti prinsipku dalam berhubungan. Aku terlalu naïf untuk mengakui perasaanku sendiri. Tapi seorang bijak pernah berkata ‘You can’t lose what you never had; keep what’s not yours, or hold on to something that doesn’t want to stay’. Well, kenyataannya adalah, I don’t wanna lose you, I want to keep you, and I want you to stay with me.” Karel sampai dihadapan Taya, tersenyum dan menghapus air mata haru dipipi Taya. “Aliana Taya Putri, will you marry me?” Karel bersimpuh dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi cincin. Taya benar-benar menangis dan tak bisa berkata apa-apa selain memeluk Karel erat, dan berbisik “I do.”

Abel melihat kotak kecil yang Ia pegang sejak tadi. Ini untuk kamu, Tay. Kotak itu kembali Ia masukkan kedalam jas. Abel beranjak pergi, meninggalkan keramaian tamu undangan yang bersorak merasakan kebahagiaan Taya. Karel menyadari kepergian Abel, Ia berlari mengejar Abel. ”Bel, tunggu!” Abel berhenti. “Makasih ya, lo udah bikin gue sadar kalo gue gak bisa jauh dari Taya.” Karel tersenyum.
Abel menepuk pundak Karel, “Selamet ya, Rel. Lo pantes kok, dampingin Taya. Gue titip Taya, jangan sampe lo sakitin dia. Taya cewek luar biasa.” Karel mengangguk.

Kini Karel sadar bahwa komitmen merupakan bagian terpenting dalam sebuah hubungan. Kalau saja Abel nggak pulang, mungkin Ia akan tetap pada prinsip konsistensinya, dan tidak menutup kemungkinan, Taya menjadi milik orang lain. Itu akan menjadi penyesalan Karel seumur hidupnya.

Cerita Hitam & Putih


“Brak!” Terdengar pintu itu terbanting lagi. Lebih keras. Caci maki itu terdengar lebih kasar, lebih keras,dan lebih menyakitkan bagi Bara. Bara mengambil kamera kesayangannya, hadiah ulang tahunnya yang ke 17. Satu-satunya benda pemberian orang tuanya. Bara melangkah keluar dari kamar dan bersamaan dengan itu, seorang laki-laki keluar dari kamar di seberang meja makan. Pria itu menatapnya tajam. Ya, lelaki itu sudah 22 tahun ini ia panggil ‘Ayah’ tanpa tau apa gunanya memanggil lelaki itu ‘Ayah’ bila Bara merasa ia tak bisa mendapatkan sosok yang seharusnya dari seorang Ayah.

Lelaki itu melangkah keluar rumah dan beberapa saat setelahnya terdengar suara mobil meninggalkan rumah. Bara berjalan melewati kamar itu, terdengar suara isak tangis seorang wanita. Bunda. Wanita yang paling disayangi Bara. Satu-satunya harta yang Bara miliki walau Bunda tak selalu ada untuknya. Sibuk dengan segala urusan pekerjaan. Bara menghampiri Bunda, di belai halus rambut Bundanya.

 “Ayahmu memang tidak punya hati, Bara! Laki-laki kurang ajar! Bangsaaaaaat!” Tangis Bunda pun semakin meledak. Bara mendekap Bunda. Dada Bara kini sesak. Ia merasakan sakit yang Bunda rasakan. Selama ini Ayah jarang ada di rumah, pulang sesekali dan yang terjadi setiap Ayah pulang hanya perkelahian seperti yang terjadi hari ini. Bara benci Ayahnya. Bara tidak ingin kelak ia menjadi lelaki pengecut seperti Ayah.

Bunda sudah tenang, Bara menarik selimut dan mencium kening Bunda. Dibiarkan Bunda tidur setelah tadi Bunda tak henti-henti menghina lelaki yang dinikahinya itu. Menyesali pernikahan mereka. Bara meninggalkan rumah menuju tempat favoritnya. Taman kota. Di tempat ini Bara biasa menghabiskan harinya, mencari beberapa obyek foto, melepas penat dan menyalurkan hobi fotografinya. Tanpa Bara sadari, sepasang mata selalu mengamatinya.

Langit mulai gelap, Bara sudah selesai memotret beberapa obyek. Namun rasanya Bara enggan beranjak dari kursi taman ini. Bunda pasti pergi entah kemana, sibuk curhat sana-sini tentang masalahnya. Bara lebih suka menikmati matahari yang mulai lelah bersinar, beberapa orang sudah beranjak pergi dari taman. Yang tersisa hanya sepasang kakek nenek yang duduk berdua di seberang Bara. Mereka terlihat akur, romantis. Bara mengambil kameranya kembali, difotonya kakek nenek itu. Bara tersenyum, senyum yang lain. Seakan mentertawakan dirinya sendiri. Bintang mulai mewarnai langit, Bara menghela nafas panjang dan berjalan pulang. Mata itu masih mengamatinya. Memperhatikan langkah Bara dan tersenyum.

Bara mengarahkan motornya keaarah kampusnya. Seperti biasa, teman-temannya pasti sedang sibuk dengan tugas kuliah yang menumpuk, sibuk mencari refrensi hingga larut di perpustakaan kampus, mungkin Bara bisa membantu mereka. Sesampainya Bara di perpustakaan kampus, Gaza-sahabat Bara menyapanya.
“Bara Sebastian! What’s up Bro’?!” Bara hanya tersenyum simpul. Gaza sudah bisa menebak apa yang baru saja di alami sahabatnya ini. “Aduh, Bar! Pasti Bokap lo lagi kan? Pasti Bunda kena tampar lagi kan? Bokap pergi lagi?” Bara diam. Gaza sangat mengerti keadaan sahabatnya ini, setiap kali Ayah pulang, bertengkar, Bara pasti menemui Gaza. Bara jarang bicara tentang masalahnya, namun Gaza tahu sekali apa yang dirasakan sahabatnya ini, Gaza hanya bisa menenangkan Bara. Memberinya semangat dan mengingatkan Bara untuk tetap menjaga Bunda. Malam itu pun dihabiskan Bara untuk sekedar melupakan masalahnya.

Bara pulang dan mendapati mobil Ayah terparkir di halaman depan. Masalah lagi, pikirnya. Baru saja Bara mau membuka pintu, pintu itu sudah di buka dengan kasar dari arah sebaliknya. Ayah keluar menatap Bara. Bara menatap dalam mata Ayah.
“Apa kamu?! Mau melawan Ayah?”
Rahang Bara mengeras, giginya beradu. “Pengecut!” entah mengapa, tapi kata itu yang keluar dari mulut Bara.
“Ohh, sekarang kamu mau berlagak sok jagoan?! Merasa dewasa melawan Ayah? Urus saja sana Bunda-mu yang lemah dan tak berguna itu!”
“Hanya banci yang bisa bersikap kasar terhadap wanita. Dan itu Anda! Banci. Pengecut. Cih!” Bara menatap sinis Ayah, sambil melangkah masuk ke dalam rumah. Lagi-lagi Bunda terduduk di sofa sambil menangis, mengutuk suaminya. Kini Bara bahkan tak membelainya. Bara menuju kamarnya, mengambil beberapa barang-barang dan pergi meninggalkan rumah, meninggalkan Bunda.

Taman kota sore itu tampak lebih sepi dari biasanya. Bara mengeluarkan kameranya, memotret beberapa obyek foto. Seperti biasa Bara beristirahat di kursi ini. Karena hanya dari kursi ini, pemandangan taman kota terlihat lebih indah. Sepasang mata itu masih memperhatikan Bara. Mata tua yang lelah. Langit mulai memerah, Bara meninggalkan taman kota, menuju tempat cuci cetak foto langganannya, PhotoSpotz.

“Ehh, Mas Bara. Apa kabar, Mas? Udah lama ndak kelihatan. Kemana aja?” Sapa seorang pegawai PhotoSpotz.
“Baik, Mas Pri. Nggak kemana-mana kok. Biasa, sibuk kuliah.”
“Oh, ngono toh! Yo wiss, mana foto yang mau di cetak? Hitam putih seperti biasa kan, Mas?” Mas Pri sudah hafal betul bagaimana keinginan pelanggannya yang satu ini.
“Sip. Hitam putih semua! Makasih, Mas.” Bara memang selalu mencetak foto hasil karyanya dengan warna hitam putih. Setelah menunggu sekitar 45 menit, Mas Pri kembali dengan beberapa lembar foto.
“Nih, Mas. Udah siap. Eh, Mas, kenapa sih selalu nyetak foto hitam putih?”
“Karena kalau hitam putih, semua tampak lebih tegas. Makna dari foto itu sendiri pun akan lebih terlihat jelas.”
“Ooooooooh, lah terus kenapa obyek foto Mas Bara tuh, selalu keluarga, pasangan suami-isteri, atau anak-anak yang lagi main di taman?”
“Saya hanya ingin bahagia seperti mereka. Tapi yang saya rasakan justru hitam putih. Ya, hitam putih dunia saya. Ahh. Sudahlah, malah ngelantur omongannya. Makasih ya, Mas Pri. Salam untuk istri di rumah!”
Mas Pri hanya geleng-geleng melihat tingkah pelanggannya itu. “Anak muda zaman sekarang!” Batinnya.

Bara benar-benar tak ingin pulang. Ia tak sanggup bertemu Bunda. Tak sanggup melihat air mata Bunda. Malam ini, Bara kembali ke taman kota. Sebelumnya ia menelpon Gaza untuk mengambil beberapa baju di rumahnya dan membawakannya untuk Bara.

Taman kota sudah sepi. Bara duduk di kursi favoritnya. Pikirannya melayang. Membayangkan kebahagian yang tak pernah ia dapatkan dari keluarga. Sejak 3 tahun yang lalu, Bara bagai hidup sendiri. Walau ATM Bara selalu penuh terisi, oleh uang Ayah dan Bunda, tapi itu tak cukup bagi Bara. Bara hanya ingin kehidupan yang normal. Keluarga yang normal. Bara bahkan tak ingat bagaimana rasanya berlibur bersama keluarga, atau bahkan makan malam bersama di rumah. Bara kesepian. Hanya teman-teman, Kampus, dan kamera kesayangannya yang selalu menemani Bara.

Tiba-tiba seorang lelaki tua berpakaian compang-camping duduk di samping Bara. Terlalu larut dalam lamunannya, Bara bahkan tak menyadari keberadaan si lelaki tua di sampingnya.
“Ada masalah lagi, Nak?” Kata lelaki tua itu menatap ke arah langit yang kini penuh bintang. Bara terkejut dan baru menyadari keberadaan si lelaki tua ini.
“Maaf?” Bara tampak tak mengerti.
“Iya, ada masalah apa lagi hingga kau tak pulang malam ini?”
“Bagaimana kakek tau, saya punya masalah?”
“Tentu saya tau. Kau selalu ke taman ini, memotret dan menghabiskan waktumu saat kau ada masalah.” Kakek tersenyum sambil menatap Bara. “Dimana keluargamu, Nak? Apa mereka tak mencarimu?”
“Keluarga? Saya enggak punya keluarga. Bahkan saya enggak yakin tau apa itu.”
“Mana yang tak kau miliki, keluarga atau tempat berlindung?” Bara tampak bingung dengan pertanyaan kakek. “Kakek orang miskin, Nak. Kakek tak punya keluarga, tapi kakek punya mereka sebagai tempat berlindung, dan disitulah kakek mendapat kebahagiaan.” Kakek menatap kearah pohon rimbun tak jauh dari kursi itu. Disana ada sekumpulan gelandangan yang sedang tertidur pulas.
“Kalau begitu, saya enggak  punya tempat berlindung.” Bara memutuskan. Kakek tersenyum. “Saya tak tau mengapa harus saya yang merasakannya.”
“Semua tak seburuk yang kau bayangkan, Nak! Hidupmu masih panjang, kau masih punya harapan untuk hidup yang lebih baik. Masalah apapun yang ada di keluargamu, jadikan itu contoh. Hidup ini terlalu singkat untuk kau pikirkan terlalu keras.”
“Tapi kapan ini akan berakhir?”
“Drama kehidupan tidak akan berakhir jika kau masih bisa menghirup udara pagi di taman ini. Tuhan sudah membuat skenario kehidupan untuk kita, dan akhirnya hanya saat kita kembali padaNya.”
“Kalau begitu, saya yang harus mengakhirinya.” Bara pun meninggalkan kakek sendiri di kursi taman. Entah kemana tujuan Bara.

Saat Gaza datang, Bara sudah tak di taman.
“Iya sudah pergi, menyelesaikan kisahnya.” Ucap kakek kepada Gaza yang tampak bingung mencari Bara.

Siang itu, langit tampak mendung, suasana di taman pemakaman umum tampak ramai. Suara isak tangis orang-orang yang kehilangan keluarga, sahabat, dan kerabat mereka. “Bara Sebastian” itu yang tertulis di batu nisan. Bara benar-benar mengakhiri segala drama hidupnya. Di sudut lain TPU, mata tua itu menatap pemakaman Bara. “Kau, mengakhiri semuanya tanpa tau apa yang akan terjadi selanjutnya, Nak!”

Ayah dan Bunda Bara tampak lebih akur, menatap kepergian anak semata wayang mereka. Mereka seperti terbangun dari tidurnya, dan tersadar bahwa anak mereka telah pergi. Untuk mengenang Bara, Ayah dan Bunda di Bantu Gaza membuat pameran fotografi bertajuk “Cerita Hitam Putih” yang memamerkan puluhan foto karya Bara tentang kehidupan keluarga seharusnya.

What's Best Always Worth To Wait

Setiap orang pasti punya cinta pertama yang nggak akan dia lupain. Tapi apakah cinta pertama itu selalu jadi cinta sejati? Bagaimana kalau kita bahkan nggak pernah punya kesempatan untuk mengungkapkan perasaan kita ke cinta pertama kita, dan disaat kita sadar, semua udah terlambat.

Hidup Libby terlihat sempurna, walaupun bukan primadona di sekolahnya, atau siswi dengan segudang prestasi. Kepribadiannya memang unik, supel, ramah dan ceria. Tidak heran mulai dari satpam, penjaga kantin, penjaga perpustakaan mengenal baik sosok Libby. Ia tidak pernah merasa malu untuk sekedar ngobrol atau menyapa orang-orang disekitarnya. Bagi Libby, membuat orang tersenyum itu akan membuat harinya menyenangkan. Sejak duduk di bangku SMP, apapun yang Libby inginkan selalu ia dapatkan. Walaupun terkadang tidak mudah, tapi Ia selalu berusaha keras untuk mendapatkan apa yang menjadi keinginannya. Namun semua itu berubah ketika Libby masuk SMA. Mungkin Dewi Fortuna tak lagi di sampingnya. Kehidupan Libby mulai berubah, masalah demi masalah mulai muncul. Dimulai dengan perpisahan orang tuanya, nilai yang menurun, pertemanan, hingga kisah cintanya. Namun Libby tetaplah Libby, bisa menyelesaikan semua masalah, kecuali masalah pada dirinya sendiri. Ya, percintaannya.

Hadirlah sosok Rio di hidupnya, seseorang yang mulai mengubah dunia Libby. Pertemanannya dengan Rio berjalan sangat baik, Libby bisa bercerita apapun pada Rio. Namun, tanpa Libby sadari, Ia telah membuat cowok ini jatuh cinta padanya. Rio tidak pernah sekalipun mengungkapkan perasaannya pada Libby, Ia memilih diam dan setia menjadi ‘sekedar sahabat’ bagi Libby. Mendengar semua keluh kesah Libby, cerita konyol setiap harinya, membuat Rio selalu tersenyum saat berada di dekatnya. Hubungan mereka tidak pernah renggang, walaupun mereka tidak berada di lingkungan yang sama dan kesibukan mereka berbeda, namun keduanya nggak pernah absen berkomunikasi. Rio yang saat itu sibuk dengan segala formulir perkuliahan, dan Libby dengan jadwal sekolah yang mulai padat menjelang penjurusan di kelas 2.

Rasa nyaman yang dirasakan Libby mulai berubah, Ia mulai sedikit cemburu, sedikit khawatir, sedikit cemas saat Rio tidak memberi kabar. Libby jatuh cinta, itu yang dikatakan Fiona¬¬, sahabat Libby. Sejak awal, Fiona selalu bilang hubungan Libby dan Rio itu lebih dari sekedar sahabat, dan setiap itu pula Libby membantah. Tapi walaupun sebenarnya mereka mempunyai rasa yang sama, tidak pernah ada yang mau mengungkapkannya. Tidak Libby, tidak juga Rio. Mereka tetap menjalani hubungan ‘persahabatan’ itu.

Tahun berganti tahun, Rio sibuk dengan persiapan sidang skripsi untuk kelulusannya sedangkan Libby mulai disibukkan dengan keorganisasian kampus. Semua hal terlihat berkembang dan berubah, kecuali satu: hubungan mereka tetap di ‘zona aman’. Intensitas pertemuan mereka mulai berkurang, komunikasi pun hanya sebatas memberi kabar atau mengingatkan makan siang. Sebagai cewek seusianya, Libby mulai jenuh dengan hubungannya yang stagnansi dengan Rio. Sudah lebih dari 4 tahun hubungan itu tanpa kejelasan, selama itu pula Libby selalu menunggu kepastian dari Rio.

Dititik jenuh itu, Libby mengenal Gaza dari seorang teman lamanya. Obrolan demi obrolan, pertemuan demi pertemuan dengan Gaza mulai membuat Libby nyaman. Sosok Gaza sangat berbeda dengan Rio dimata Libby. Mereka punya cara berbeda untuk membuat Libby tertawa. Gaza selalu bisa membuat Libby merasa disayang, tanpa membuatnya manja seperti Rio yang selalu memanjakanya. Gaza tidak butuh waktu lama untuk menaklukan hati Libby yang sedang labil. Hari itu Libby menerima Gaza jadi pacarnya, tanpa Rio tau. Libby merasa, belum saatnya Rio tau hal ini, apalagi sidang skripsi Rio semakin dekat.

Hari-hari selanjutnya dijalani Libby seperti biasa, hubungan dengan Rio tetap baik, Ia bahkan mendampingi Rio saat sidang. Rio selalu bersyukur mempunyai Libby yang selalu bisa Ia andalkan dalam hal apapun. Tapi Rio terlalu takut mengungkapkan apa yang Ia rasakan, baginya lebih baik diam dan tetap merasa nyaman ada di dekat Libby sebagai ‘sahabat’ daripada harus kehilangan Libby suatu hari nanti karena kata perpisahan seperti ‘putus’. Namun tanpa disadarinya rasa ketakutan itu justru membuat Libby memilih Gaza. Malam itu Rio ingin marayakan kelulusannya bersama Libby, sekedar makan malam atau jalan-jalan keliling Jakarta tanpa tujuan seperti yang biasa mereka lakukan. Tapi semua rencana Rio kini hancur berantakan.

”Halo?”
”Libby! Siap-siap ya, bentar lagi aku jemput kamu. Aku mau traktir kamu nih.”
”Ha? Aduh, maaf banget, Yo, aku nggak bisa nih.. aku lagi nggak di rumah.”
”Oh gitu? Yaudah, kamu dimana? Nanti aku jemput disitu aja ya. Sama siapa kamu? Bunda? Nggak papa kok ajak aja Bun---” belum sampai Rio menyelesaikan kalimatnya, Libby memotong.
”Rio.. maaf ya, aku nggak bisa pergi malem ini. Aku nggak sama Bunda, aku lagi pergi sama pacar aku. Maaf banget ya, Rio.” Suara Libby melemah, merasa bersalah karena mengungkapkan semua disaat yang tidak tepat.
”Pacar? Hahaha.. jangan suka bercanda ah, kamu! Ayo dong, By, kamu aku jemput sekarang nih ya.”
”Aku tau, aku salah. Harusnya aku cerita sama kamu dari kemarin soal ini. Iya, Yo, aku udah punya pacar. Maaf banget ya, Rio. Aku janji, besok kita ketemu ya. Oke?” Tidak ada kata yang keluar dari mulut Rio. Semuanya kini benar-benar hancur dan berakhir. Ketakutannya terjadi, Ia kehilangan Libby. ”Yo? Kamu masih disitu kan? Halo?”
”Ah, Hmm? Iya, By. Masih kok. Yaudah, gampanglah, nggak usah dipaksain juga kalo’ emang besok juga nggak bisa. Oke deh, Have fun ya. Salam untuk cowok kamu. Bye, Libsky!” Rio berusaha tetap tersadar, menata kembali pikiran dan hatinya. Rio tak pernah menyangka semua terjadi seperti ini. Semua yang telah Ia lewati bersama Libby selama lebih dari 4 tahun terakhir ini harus selesai dengan cara seperti ini.

Sejak hari itu, hubungan Libby dan Rio benar-benar berubah. Tidak ada lagi kabar, atau cerita tentang interview pekerjaan dari Rio. Sesekali Libby mengirim pesan singkat untuk Rio, mengingatkan makan siang dan minum vitamin. Libby merasa bersalah, hatinya tidak tenang, khawatir dengan keadaan Rio. Libby tau betul bagaimana Rio, dia nggak akan menunjukkan kekecewaan atau kesedihannya di depan orang lain. Dia nggak pernah mau orang tau apa yang sedang dirasakannya, tapi Libby tau. Libby selalu tau, dan kini Libby merasa menjadi orang paling jahat karena telah melukai hati Rio. Bukan hanya karena malam itu Libby menolak ajakan Rio merayakan kelulusannya, tapi Libby merasa ada kekecewaan lain yang Rio rasakan. Tentang hubungannya dengan Gaza.

Gaza mulai merasa terganggu dengan sikap Libby yang dinilainya terlalu berlebihan. Gaza merasa ada sesuatu yang lebih dari persahabatan Libby dan Rio, karena bagi Gaza persahabatan lawan jenis itu tidak pernah ada yang murni. Mulai banyak pertengkaran diantara mereka, hal sekecil apapun bisa memicu pertengkaran dan Gaza selalu mengaitkan Rio disemua masalah. Gaza mulai mengontrol segala urusan Libby, semua yang Libby lakukan harus dengan izin Gaza. Libby tidak diperbolehkan berhubungan dengan Rio dalam bentuk apapun, bahkan Gaza memintanya bertukar handphone. Libby terpenjara oleh keposesifan Gaza. Sejak semua media komunikasi diawasi oleh Gaza, Libby hanya bisa menghubungi Rio via e-mail yang baru Ia buat dengan password yang tidak diketahui Gaza.

Rio tau Libby tidak bahagia, tapi Ia tidak bisa berbuat banyak. Ia tidak mau jadi pahlawan kesiangan, Ia yakin dengan kemampuan Libby untuk menyelesaikan masalahnya sendiri karena Libby selalu tau apa yang terbaik untuk semua orang. Rio cukup menjaga Libby dari jauh, dan memastikan bahwa kapanpun Libby membutuhkannya, Ia akan selalu ada.

Libby merindukan Rio, saat-saat seperti ini, Ia membutuhkan sosok Rio yang menenangkan dan setia mendengarkan segala keluh kesahnya dan memberi nasihat tanpa terkesan menggurui. Walau hanya terpaut 2 tahun lebih tua, tapi Rio mampu bersikap dewasa dalam menghadapi masalah. Kedewasaan seseorang memang tidak bisa diukur dari usia, karena usia merupakan sesuatu yang mutlak, sedangkan kedewasaan itu relatif, tergantung dari proses seseorang menyikapi setiap masalah yang Ia hadapi.

Rio tidak pernah benar-benar hilang dari hidup Libby. Walaupun sekarang Rio menjaga jarak dengan Libby, tapi dia selalu tau saat Libby membutuhkannya. Seperti malam itu, Libby menangis setelah pertengkaran hebat dengan Gaza dan berakhir putus, Ia sudah tidak tahan dengan sikap kasar Gaza yang mulai berani memukul atau membentak Libby saat bertengkar. Seakan bisa merasakan kesedihan Libby, Rio menghubungi Libby, tapi tak ada kata yang keluar dari mulut Libby. Hanya tangis. Rio juga diam, sampai akhirnya Libby tenang.

“Udah tenang, By? Sekarang tidur ya, istirahat. Besok aku kerumah kamu, nggak mau liat mata bola golf ya. Good night, Dear.”

Kini Libby tidak hanya merasa bersalah pernah menyakiti Rio, tapi Ia juga merasa bodoh menghabiskan 3 tahun dengan Gaza dan berfikir bahwa Gaza bisa berubah menjadi orang yang lebih baik. Libby tidak menyesal mengenal Gaza, semua dianggapnya proses pembelajaran untuk jadi lebih dewasa.

Hubungan Libby dengan Rio kembali seperti semula, di ‘zona aman’. Tidak ada yang mau membahas tentang kelanjutan hubungan ini, mereka memilih menjalani apa yang ada sekarang. Selama hampir 8 tahun mengenal Rio, baru kali ini Libby merasa sangat yakin dengan perasaannya terhadap Rio. Tapi ternyata kisah mereka belum berakhir bahagia seperti yang Libby bayangkan. Secara tiba-tiba Rio menghilang dari hidup Libby. Menghubungi Rio menjadi sangat sulit, bahkan orang-orang sekitar Rio pun tidak bisa diharapkan. Semua sekan menutupi keberadaan Rio. Libby berada di fase ini lagi, lowest point of love-life. Disaat Ia yakin dengan perasaannya, Rio menghilang tanpa ada penjelasan atau apapun. Libby hampir putus asa untuk mencari Rio. Sampai tiba-tiba Ia menerima pesan singkat dari Rio.

Libby.

Ya, pesan itu hanya berisi namanya. Dengan semangat dan merasa menemui titik terang, Libby membalas pesan itu. Libby minta maaf kalau memang kepergian Rio itu disebabkan olehnya. Tapi kemudian, seakan de javu, Libby tanpa sadar meneteskan air matanya, membaca pesan balasan dari Rio.

Maafin aku ya, akhir-akhir ini menghilang dari kamu. Bukan salah kamu kok, By. Aku yang salah. Maafin aku ya, tapi aku menghilang itu, karena aku udah punya pacar. Maafin aku, aku nggak pernah bermaksud apa-apa.

Libby yakin Ia sedang bermimpi. Mimpi terburuk yang pernah Ia alami, dadanya sesak, sakit luar biasa membaca pesan dari Rio. Apa ini yang dulu Rio rasakan saat dia tau tentang Gaza? Libby sudah tidak punya kekuatan untuk membalas pesan itu. Air mata terus membanjiri wajahnya. Terlalu banyak hal yang ada di benak Libby. Apa ini karma? Gimana Rio bisa menahan rasa sesakit ini dengan tetap berhubungan baik sama aku? Gimana caranya Rio bertahan dengan rasa sesakit ini liat aku sama Gaza, sedangkan sekarang aja rasanya aku ga kuat? Libby menyerah, Ia hanya membalas dengan ucapan selamat dan doa agar Rio bahagia. Malam itu, Libby hanya menangis dan berharap itu bisa mengurangi rasa sakit yang Ia rasakan.

Kehidupan baru untuk Libby, setiap harinya Ia harus membiasaakan diri tanpa Rio. Semua terasa berbeda tanpa keberadaan Rio. Libby rindu kebersamaan mereka, kebiasaan ‘pergi-tanpa-tujuan’ yang selalu mereka lakukan. Tapi semua harus Libby jalani. Kalau dulu Rio mampu bertahan menahan segala rasa sakit dan kecewanya melihat Libby bersama Gaza selama 3 Tahun, Libby merasa dia juga harus bisa. Mungkin Libby tidak mati karena kehilangan Rio, Ia hanya tidak bisa berjalan setegap dulu. Tapi ini baru tahun pertama nya, masih banyak kemungkinan yang bisa terjadi. Kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi kedepannya, jika menunggu adalah hal terbaik yang bisa Ia lakukan saat ini, maka Ia akan bersabar. Karena sesuatu yang baik itu tidak akan didapatkan dengan mudah.