Kini aku membenci dongeng.
Membenci kisahnya yang berakhir bahagia.
Membenci kisahnya yang menjual mimpi.
Mimpi yang seolah mudah terkabul.
Mimpi yang seolah nyata!
Aku muak!
Karena, aku sadar.
Tak semua kisah berakhir indah.
Tak semua kisah berakhir saat
Sang putri bertemu pangerannya.
Klasik!
Kisahku pun begitu.
Berakhir saat aku berusaha memulainya.
Berakhir saat aku berusaha memilikinya.
Datar. Tanpa emosi, walau ku rasa sakit.
Tak dapat kucegah.
Tak dapat ku hindari perpisahan itu.
Karena sesungguhnya kisahku,
Tak ku awali dengan mimpi.
Mungkin dongeng-dongeng itu,
Berakhir bahagia, karena diawali mimpi.
Tapi aku sudah tak sanggup bermimpi.
Aku takut bermimpi lagi.
Aku terlalu takut untuk merasa sakit lagi.
Aku takut kecewa.
Walau aku harus menatap hidup ke depan.
Tuhan...
Tolong aku!
Jika aku menemukan pangeran itu,
Jadikan kisahku seindah kisah dongeng, negeri mimpi.
Buatlah aku percaya akan mimpi dalam negeri dongeng itu.
7 Mei 2007
Kamis, 24 Desember 2009
Senin, 21 Desember 2009
Memori Langit Jingga
Yasmin masih terpaku pada warna jingga langit sore itu. Tatapannya jauh ke depan. Pohon kelapa di depan rumah melambai-lambai tertiup angin. Suasana seindah ini seharusnya sangat inspiratif untuk seorang penulis seperti Yasmin. Tapi tidak kali ini, air mata tanpa sadar membasahi pipi meronanya.
Dana.
Semua memori tentang lelaki itu terus berulang di benak Yasmin.
Sore itu Yasmin bersiap menjemput Dana di airport. Dana pulang setelah 3 tahun melanjutkan studi di Belanda. Dan setelah hari itu Dana akan menepati janjinya. Janji 3 tahun yang lalu di bukit bintang.
"Aku gak akan lama kok, Yasmin. Aku janji, setelah aku pulang, aku akan melamar kamu. Kita akan jadi keluarga yang bahagia. Aku sayang banget sm kamu. Tunggu aku ya!"
Kata2 semanis itu yang membuat Yasmin bertahan dengan hubungan jarak jauh dengan Dana.
2jam sebelum pesawat tiba, Yasmin sudah berada di bandara. Wajahnya gelisah, beberapa kali iya ke kamar mandi, memastikan semua baik. Makeup, pakaian, dll.
Tapi,
30menit sebelum pesawat tiba,sebuah pengumuman membuat Yasmin lemas dan hampir pingsan. Pesawat yang di tumpangi Dana, mengalami kecelakaan. Belum bisa di pastikan apakah penumpang bisa di selamatkan.
Pandangan Yasmin kabur. Gelap.
Dana tak pernah pulang.
Dana tak pernah menepati janjinya.
Dana meninggalkan Yasmin.
Dana tak terselamatkan.
Sore itu, langit jingga. Pemakaman Dana berjalan lancar. Yasmin tak mampu beranjak dari tempat pemakaman. Ia terduduk, menangis.
Sejak saat itu, Yasmin membenci langit jingga. Langit jingga, membuka luka hatinya. Langit jingga mengingatkannya pada Dana.
Lelaki yang tak pernah ia lupakan.
Lelaki yang menjanjikan indahnya keluarga.
Dana.
Semua memori tentang lelaki itu terus berulang di benak Yasmin.
Sore itu Yasmin bersiap menjemput Dana di airport. Dana pulang setelah 3 tahun melanjutkan studi di Belanda. Dan setelah hari itu Dana akan menepati janjinya. Janji 3 tahun yang lalu di bukit bintang.
"Aku gak akan lama kok, Yasmin. Aku janji, setelah aku pulang, aku akan melamar kamu. Kita akan jadi keluarga yang bahagia. Aku sayang banget sm kamu. Tunggu aku ya!"
Kata2 semanis itu yang membuat Yasmin bertahan dengan hubungan jarak jauh dengan Dana.
2jam sebelum pesawat tiba, Yasmin sudah berada di bandara. Wajahnya gelisah, beberapa kali iya ke kamar mandi, memastikan semua baik. Makeup, pakaian, dll.
Tapi,
30menit sebelum pesawat tiba,sebuah pengumuman membuat Yasmin lemas dan hampir pingsan. Pesawat yang di tumpangi Dana, mengalami kecelakaan. Belum bisa di pastikan apakah penumpang bisa di selamatkan.
Pandangan Yasmin kabur. Gelap.
Dana tak pernah pulang.
Dana tak pernah menepati janjinya.
Dana meninggalkan Yasmin.
Dana tak terselamatkan.
Sore itu, langit jingga. Pemakaman Dana berjalan lancar. Yasmin tak mampu beranjak dari tempat pemakaman. Ia terduduk, menangis.
Sejak saat itu, Yasmin membenci langit jingga. Langit jingga, membuka luka hatinya. Langit jingga mengingatkannya pada Dana.
Lelaki yang tak pernah ia lupakan.
Lelaki yang menjanjikan indahnya keluarga.
Sabtu, 31 Oktober 2009
garato chamando Heitor
Eu conheci alguém no ciberespaço, ele é um bom e muito agradável. Ele poderia sempre me faz rir quando nos bate-papo.
Mas, às vezes, o tempo perpedaan tornar nossas comunicações interrompidas. And it sucks! Porque o momento é muito agradável para falar com ele.
e agora, aprendi a interpretar a linguagem Português que eu entendo o que você escreve, Heitor.
Sinto saudades de você.
Mas, às vezes, o tempo perpedaan tornar nossas comunicações interrompidas. And it sucks! Porque o momento é muito agradável para falar com ele.
e agora, aprendi a interpretar a linguagem Português que eu entendo o que você escreve, Heitor.
Sinto saudades de você.
Kamis, 29 Oktober 2009
Senin, 19 Oktober 2009
Quotation
At work, At play, life has it ups and downs.
I hate my self for losing you.
I'd like to say he broke my heart.
But it was me who let him go.
It was my stupid mistake that tearing me apart
Love begin with a smile, grows with a kiss and end with teardrops.
Nobody can go back and starts a new beginning.
But anyone can starts today and make a new endings.
But anyone can starts today and make a new endings.
"I know I'm going to get my heart broken. But, I've been by his side for far too long to just let him go."
Break-up is like reading a book. When you reading a book, don't repeat reading chapter. The story will never ever change. It stays the same. Move on.
Apologizing is like white-out. It covers the mistakes, but they don't really gone.
Sometimes, tears can make the one who doesn't love you anymore, love you again.
Give up, Give in, or Give it all you've got!
"A woman is like a tea bag. You never know, how strong she is, until she gets in hot water." -Elanor Roosevelt
There is a big difference in what we long for, what we settle for and what we are meant for!
It's so hard to forget pain,
But it's even harder to remember sweetness.
We've no scar to show for happiness,
we learn a little from peace.
Selasa, 06 Oktober 2009
Yes, It's You
"Nikah sama gue, ya?"
"Hmm, kenapa gue harus milih lo, bukan dia?"
"Karena gue yang sekarang ada di depan lo, bukan dia."
".........."
"Karena gue udah nunggu lo 8 tahun , dan kalaupun gue harus nunggu 8 tahun lagi karena lo milih dia, gue gak perduli. gue akan tunggu lo. Dia akan nyakitin lo lagi, dan lo bakal dateng ke gue lagi.."
".........."
"Karena lo selalu minta gue untuk ngapus air mata yang dia sebab-in. Dan cuma gue yang bisa bikin lo ketawa setelah lo nangis ngeraung-raung karena dia."
"........."
"Karena cuma gue yang bilang lo bego, tanpa nyakitin perasaan lo karena lo tau, gue selalu nganggep lo cewe terkuat yang ada."
"Dia nggak akan nyakitin gue lagi."
"Lo selalu ngomong gitu."
"Iya..."
"Iya apa?"
"Iya gue mau jadi istri lo."
"............."
"Dia nggak akan nyakitin istri orang kan?"
"Hmm, kenapa gue harus milih lo, bukan dia?"
"Karena gue yang sekarang ada di depan lo, bukan dia."
".........."
"Karena gue udah nunggu lo 8 tahun , dan kalaupun gue harus nunggu 8 tahun lagi karena lo milih dia, gue gak perduli. gue akan tunggu lo. Dia akan nyakitin lo lagi, dan lo bakal dateng ke gue lagi.."
".........."
"Karena lo selalu minta gue untuk ngapus air mata yang dia sebab-in. Dan cuma gue yang bisa bikin lo ketawa setelah lo nangis ngeraung-raung karena dia."
"........."
"Karena cuma gue yang bilang lo bego, tanpa nyakitin perasaan lo karena lo tau, gue selalu nganggep lo cewe terkuat yang ada."
"Dia nggak akan nyakitin gue lagi."
"Lo selalu ngomong gitu."
"Iya..."
"Iya apa?"
"Iya gue mau jadi istri lo."
"............."
"Dia nggak akan nyakitin istri orang kan?"
Pergi
Aku suka berkhayal.
Berkhayal hal-hal indah.
Hal-hal yang ku harapkan.
Tapi kali ini, aku tidak berkhayal!
Kali ini nyata.
Kali ini bukan yang aku harapkan.
Ya aku cukup sadar untuk bilang ini bukan khayalan.
Tapi ini bukan sesuatu yang indah seperti khayalanku.
Aku menangis,
terpuruk,
terjatuh,
dan sulit bangkit kembali.
Kali ini nyata!
Benar-benar nyata.
Aku benar-bnar terpuruk kali ini.
benar-benar sulit berdiri.
Tuhan, tolong aku!
Tak ku sangka ini berat.
Tak ku sangka ini sulit.
TAPI..
Aku harus bisa!
Aku harus berubah.
Aku harus bangkit.
Aku harus menghapus airmata ini.
Aku harus melangkah ke depan.
Aku harus membiarkan semua menjadi kenangan.
Terima kasih atas segalanya.
Kamu tetap yang terbaik yang pernah ada.
Aku pergi.
Berkhayal hal-hal indah.
Hal-hal yang ku harapkan.
Tapi kali ini, aku tidak berkhayal!
Kali ini nyata.
Kali ini bukan yang aku harapkan.
Ya aku cukup sadar untuk bilang ini bukan khayalan.
Tapi ini bukan sesuatu yang indah seperti khayalanku.
Aku menangis,
terpuruk,
terjatuh,
dan sulit bangkit kembali.
Kali ini nyata!
Benar-benar nyata.
Aku benar-bnar terpuruk kali ini.
benar-benar sulit berdiri.
Tuhan, tolong aku!
Tak ku sangka ini berat.
Tak ku sangka ini sulit.
TAPI..
Aku harus bisa!
Aku harus berubah.
Aku harus bangkit.
Aku harus menghapus airmata ini.
Aku harus melangkah ke depan.
Aku harus membiarkan semua menjadi kenangan.
Terima kasih atas segalanya.
Kamu tetap yang terbaik yang pernah ada.
Aku pergi.
Rabu, 30 September 2009
Tentang Kami
Hujan turun lagi.
Deras.
Tapi aku menyukainya,
menikmatinya.
Tiap tetesnya ku nikmati.
Tiap tetes yang membasahin wajahku.
Hari ini aku menunggunya.
Ku harap kali ini ia menepati janjinya.
Lalu, ia datang.
Manepati janjinya.
Dia di hadapanku.
Menatapku.
Menanti sebuah kata dariku.
Kata yang menjelaskan segalanya.
Tentang kami.
Dan, tanpa ia sadari,
Aku menangis..............
Deras.
Tapi aku menyukainya,
menikmatinya.
Tiap tetesnya ku nikmati.
Tiap tetes yang membasahin wajahku.
Hari ini aku menunggunya.
Ku harap kali ini ia menepati janjinya.
Lalu, ia datang.
Manepati janjinya.
Dia di hadapanku.
Menatapku.
Menanti sebuah kata dariku.
Kata yang menjelaskan segalanya.
Tentang kami.
Dan, tanpa ia sadari,
Aku menangis..............
Langganan:
Postingan (Atom)



.jpg)







