Sabtu, 26 April 2014

Aku & Mereka.

Ini bukan hanya tentang cinta.
Tapi tentang bagaimana menyatukan banyak perbedaan.
Ini bukan hanya tentang kita.
Tapi tentang 2 keluarga yang ingin di persatukan.
Ini bukan hanya tentang pengertian.
Tapi tentang toleransi dan batas kesabaran.

Semua orang ingin dimengerti.
Semua orang ingin dihotmati.
Semua orang punya porsi.
Dan semua orang punya batas.

Bukan sekedar memilih A dan B.
Bukan sekedar menjawab Ya atau Tidak.
Tapi banyak kajian mengapa memilih.

Aku hanya seorang anak.
Ya, mereka orang tua.

Semua orang tua merasa memiliki hidup anaknya.
Semua orang tua merasa punya hak atas hidup anaknya.
Semua orang tua merasa tahu apa yang terbaik bagi anaknya.
Semua orang tua merasa harus membahagiakan anaknya, dengan cara apapun.

Tapi mungkin mereka lupa.

Anak memiliki hidupnya sendiri.
Anak memiliki hak dan kewajibannya sendiri.
Anak bisa berfikir tentang baik buruk sebuah pilihan.
Anak selalu berusaha menyenangkan hati orang tuanya.

Aku bukan tidak menyayangi mereka. Aku mencintai mereka. Aku tidak akan bisa menulis ini sekarang kalau bukan karena mereka. Aku hanya ingin mereka mengerti. Seharusnya mereka melihatku. Anak yang selama ini mungkin menyimpan banyak kecewa terhadap mereka, hanya saja aku tak pernah mengungkapkan kekecewaan itu. Aku yang menjadi dewasa sebelum waktunya. Aku yang dipaksa berfikir jauh dari usiaku. Aku ini hanya ingin bahagia dan membahagiakan mereka kok.

Aku mulai muak dengan segala drama yang ada. Demi Tuhan, sekali ini saja jangan paksa aku jadi pemeran di drama kalian. Sudah cukup belasan tahun aku selalu jadi penengah semua drama kekerasan kalian. Drama roman picisan yang berakhir perpisahan. Saat itu, kupikir perpisahan adalah cara terbaik menyudahin drama itu. Tapi ternyata aku salah, tidak berhenti, drama pun berlanjut hingga detik ini. Kali ini bukan saling tusuk di medan perang, tapi perang dingin. Mulut yang lebih tajam dari belati.

Siapa yang harus mendengar & memisahkan? Ya. Aku.

Dan sekarang, disaat akhirnya aku cukup dewasa untuk memilih jalanku sendiri.. lagi lagi aku harus berurusan dengan masalah yang sama. Mereka & ego nya masing masing. Sekali lagi aku harus menjadi korban mereka. Aneh, bukan aku yang berperang tapi mengapa selalu aku yang berdarah dan terluka? Atas nama sakit hati, mereka saling membela diri meminta pengertian dariku agar dapat pembelaan. Mungkin mereka lupa, bukan hanya mereka yang terluka dan ingin dimengerti.

Hey.. ada aku disitu! Ada aku saat kalian bertengkar. Ada aku melihat segalanya. Jangan bicara sakit hati dan kedewasaan padaku. Rasanya tak pantas walau mereka orang dewasa, kelakuannya tidak mencerminkan itu.

Ku mohon, sekali ini saja. Aku mohon. Jangan kacaukan rencana bahagiaku. Jangan kacaukan kisahku. Jangan samakan aku dengan kalian. Menikah bukan sebuah mimpi buruk seperti yang kalian alami, aku percaya itu. Jadi, biarkan aku merajut kisahku sendiri. Aku hanya memohon restu dan doa tulus untuk kebahagiaanku kelak. Jangan rusak mimpiku dangan ego kalian. Ku mohon, kali ini dengarkan aku. Coba pahami aku. Kali ini coba tatap mataku, rasakan sakit yang selama ini ku pendam. Sembuhkan luka ini dengan membiarkan aku bahagia dengan caraku.

Aku menyayangi dia. Aku memilihnya untuk mendampingi aku.

Aku mencintai kalian.

-A

Tidak ada komentar:

Posting Komentar