“Brak!” Terdengar
pintu itu terbanting lagi. Lebih keras. Caci maki itu terdengar lebih kasar,
lebih keras,dan lebih menyakitkan bagi Bara. Bara mengambil kamera
kesayangannya, hadiah ulang tahunnya yang ke 17. Satu-satunya benda pemberian
orang tuanya. Bara melangkah keluar dari kamar dan bersamaan dengan itu,
seorang laki-laki keluar dari kamar di seberang meja makan. Pria itu menatapnya
tajam. Ya, lelaki itu sudah 22 tahun ini ia panggil ‘Ayah’ tanpa tau apa
gunanya memanggil lelaki itu ‘Ayah’ bila Bara merasa ia tak bisa mendapatkan
sosok yang seharusnya dari seorang Ayah.
Lelaki itu
melangkah keluar rumah dan beberapa saat setelahnya terdengar suara mobil
meninggalkan rumah. Bara berjalan melewati kamar itu, terdengar suara isak tangis
seorang wanita. Bunda. Wanita yang paling disayangi Bara. Satu-satunya harta
yang Bara miliki walau Bunda tak selalu ada untuknya. Sibuk dengan segala
urusan pekerjaan. Bara menghampiri Bunda, di belai halus rambut Bundanya.
“Ayahmu memang
tidak punya hati, Bara! Laki-laki kurang ajar! Bangsaaaaaat!” Tangis Bunda pun
semakin meledak. Bara mendekap Bunda. Dada Bara kini sesak. Ia merasakan sakit
yang Bunda rasakan. Selama ini Ayah jarang ada di rumah, pulang sesekali dan
yang terjadi setiap Ayah pulang hanya perkelahian seperti yang terjadi hari
ini. Bara benci Ayahnya. Bara tidak ingin kelak ia menjadi lelaki pengecut
seperti Ayah.
Bunda sudah
tenang, Bara menarik selimut dan mencium kening Bunda. Dibiarkan Bunda tidur
setelah tadi Bunda tak henti-henti menghina lelaki yang dinikahinya itu.
Menyesali pernikahan mereka. Bara meninggalkan rumah menuju tempat favoritnya.
Taman kota. Di tempat ini Bara biasa menghabiskan harinya, mencari beberapa
obyek foto, melepas penat dan menyalurkan hobi fotografinya. Tanpa Bara sadari,
sepasang mata selalu mengamatinya.
Langit mulai
gelap, Bara sudah selesai memotret beberapa obyek. Namun rasanya Bara enggan
beranjak dari kursi taman ini. Bunda pasti pergi entah kemana, sibuk curhat
sana-sini tentang masalahnya. Bara lebih suka menikmati matahari yang mulai
lelah bersinar, beberapa orang sudah beranjak pergi dari taman. Yang tersisa
hanya sepasang kakek nenek yang duduk berdua di seberang Bara. Mereka terlihat
akur, romantis. Bara mengambil kameranya kembali, difotonya kakek nenek itu.
Bara tersenyum, senyum yang lain. Seakan mentertawakan dirinya sendiri. Bintang mulai
mewarnai langit, Bara menghela nafas panjang dan berjalan pulang. Mata itu
masih mengamatinya. Memperhatikan langkah Bara dan tersenyum.
Bara mengarahkan
motornya keaarah kampusnya. Seperti biasa, teman-temannya pasti sedang sibuk
dengan tugas kuliah yang menumpuk, sibuk mencari refrensi hingga larut di
perpustakaan kampus, mungkin Bara bisa membantu mereka. Sesampainya Bara di
perpustakaan kampus, Gaza-sahabat Bara menyapanya.
“Bara Sebastian!
What’s up Bro’?!” Bara hanya tersenyum simpul. Gaza sudah bisa menebak apa yang
baru saja di alami sahabatnya ini. “Aduh, Bar! Pasti Bokap lo lagi kan? Pasti
Bunda kena tampar lagi kan? Bokap pergi lagi?” Bara diam. Gaza sangat
mengerti keadaan sahabatnya ini, setiap kali Ayah pulang, bertengkar, Bara
pasti menemui Gaza. Bara jarang bicara tentang masalahnya, namun Gaza tahu
sekali apa yang dirasakan sahabatnya ini, Gaza hanya bisa menenangkan Bara.
Memberinya semangat dan mengingatkan Bara untuk tetap menjaga Bunda. Malam itu
pun dihabiskan Bara untuk sekedar melupakan masalahnya.
Bara pulang dan
mendapati mobil Ayah terparkir di halaman depan. Masalah lagi, pikirnya. Baru
saja Bara mau membuka pintu, pintu itu sudah di buka dengan kasar dari arah
sebaliknya. Ayah keluar menatap Bara. Bara menatap dalam mata Ayah.
“Apa kamu?! Mau
melawan Ayah?”Rahang Bara mengeras, giginya beradu. “Pengecut!” entah mengapa, tapi kata itu yang keluar dari mulut Bara.
“Ohh, sekarang kamu mau berlagak sok jagoan?! Merasa dewasa melawan Ayah? Urus saja sana Bunda-mu yang lemah dan tak berguna itu!”
“Hanya banci yang bisa bersikap kasar terhadap wanita. Dan itu Anda! Banci. Pengecut. Cih!” Bara menatap sinis Ayah, sambil melangkah masuk ke dalam rumah. Lagi-lagi Bunda terduduk di sofa sambil menangis, mengutuk suaminya. Kini Bara bahkan tak membelainya. Bara menuju kamarnya, mengambil beberapa barang-barang dan pergi meninggalkan rumah, meninggalkan Bunda.
“Ehh, Mas Bara.
Apa kabar, Mas? Udah lama ndak kelihatan.
Kemana aja?” Sapa seorang pegawai PhotoSpotz.
“Baik, Mas Pri.
Nggak kemana-mana kok. Biasa, sibuk kuliah.”
“Oh, ngono toh! Yo wiss, mana foto yang mau di cetak? Hitam putih seperti biasa
kan, Mas?” Mas Pri sudah hafal betul bagaimana keinginan pelanggannya yang satu
ini.
“Sip. Hitam putih
semua! Makasih, Mas.” Bara memang selalu mencetak foto hasil karyanya dengan
warna hitam putih. Setelah menunggu sekitar 45 menit, Mas Pri kembali dengan
beberapa lembar foto.
“Nih, Mas. Udah
siap. Eh, Mas, kenapa sih selalu nyetak foto hitam putih?”
“Karena kalau
hitam putih, semua tampak lebih tegas. Makna dari foto itu sendiri pun akan
lebih terlihat jelas.”
“Ooooooooh, lah
terus kenapa obyek foto Mas Bara tuh, selalu keluarga, pasangan suami-isteri,
atau anak-anak yang lagi main di taman?”
“Saya hanya ingin
bahagia seperti mereka. Tapi yang saya rasakan justru hitam putih. Ya, hitam
putih dunia saya. Ahh. Sudahlah, malah ngelantur omongannya. Makasih ya, Mas
Pri. Salam untuk istri di rumah!”
Mas Pri hanya
geleng-geleng melihat tingkah pelanggannya itu. “Anak muda zaman sekarang!”
Batinnya.
Bara benar-benar
tak ingin pulang. Ia tak sanggup bertemu Bunda. Tak sanggup melihat air mata
Bunda. Malam ini, Bara kembali ke taman kota. Sebelumnya ia menelpon Gaza untuk
mengambil beberapa baju di rumahnya dan membawakannya untuk Bara.
Taman kota sudah
sepi. Bara duduk di kursi favoritnya. Pikirannya melayang. Membayangkan
kebahagian yang tak pernah ia dapatkan dari keluarga. Sejak 3 tahun yang lalu,
Bara bagai hidup sendiri. Walau ATM Bara selalu penuh terisi, oleh uang Ayah
dan Bunda, tapi itu tak cukup bagi Bara. Bara hanya ingin kehidupan yang
normal. Keluarga yang normal. Bara bahkan tak ingat bagaimana rasanya berlibur
bersama keluarga, atau bahkan makan malam bersama di rumah. Bara kesepian.
Hanya teman-teman, Kampus, dan kamera kesayangannya yang selalu menemani Bara.
Tiba-tiba seorang
lelaki tua berpakaian compang-camping duduk di samping Bara. Terlalu larut
dalam lamunannya, Bara bahkan tak menyadari keberadaan si lelaki tua di
sampingnya.
“Ada masalah
lagi, Nak?” Kata lelaki tua itu menatap ke arah langit yang kini penuh bintang.
Bara terkejut dan baru menyadari keberadaan si lelaki tua ini.
“Maaf?” Bara
tampak tak mengerti.
“Iya, ada masalah
apa lagi hingga kau tak pulang malam ini?”
“Bagaimana kakek
tau, saya punya masalah?”
“Tentu saya tau.
Kau selalu ke taman ini, memotret dan menghabiskan waktumu saat kau ada
masalah.” Kakek tersenyum sambil menatap Bara. “Dimana keluargamu, Nak? Apa
mereka tak mencarimu?”
“Keluarga? Saya
enggak punya keluarga. Bahkan saya enggak yakin tau apa itu.”
“Mana yang tak
kau miliki, keluarga atau tempat berlindung?” Bara tampak bingung dengan
pertanyaan kakek. “Kakek orang miskin, Nak. Kakek tak punya keluarga, tapi
kakek punya mereka sebagai tempat berlindung, dan disitulah kakek mendapat
kebahagiaan.” Kakek menatap kearah pohon rimbun tak jauh dari kursi itu. Disana
ada sekumpulan gelandangan yang sedang tertidur pulas.
“Kalau begitu,
saya enggak punya tempat berlindung.”
Bara memutuskan. Kakek tersenyum. “Saya tak tau mengapa harus saya yang
merasakannya.”
“Semua tak
seburuk yang kau bayangkan, Nak! Hidupmu masih panjang, kau masih punya harapan
untuk hidup yang lebih baik. Masalah apapun yang ada di keluargamu, jadikan itu
contoh. Hidup ini terlalu singkat untuk kau pikirkan terlalu keras.”
“Tapi kapan ini
akan berakhir?”
“Drama kehidupan
tidak akan berakhir jika kau masih bisa menghirup udara pagi di taman ini.
Tuhan sudah membuat skenario kehidupan untuk kita, dan akhirnya hanya saat kita
kembali padaNya.”
“Kalau begitu, saya
yang harus mengakhirinya.” Bara pun meninggalkan kakek sendiri di kursi taman.
Entah kemana tujuan Bara.
Saat Gaza datang,
Bara sudah tak di taman.
“Iya sudah pergi,
menyelesaikan kisahnya.” Ucap kakek kepada Gaza yang tampak bingung mencari
Bara.
Siang itu, langit
tampak mendung, suasana di taman pemakaman umum tampak ramai. Suara isak tangis
orang-orang yang kehilangan keluarga, sahabat, dan kerabat mereka. “Bara
Sebastian” itu yang tertulis di batu nisan. Bara benar-benar mengakhiri segala
drama hidupnya. Di sudut lain TPU, mata tua itu menatap pemakaman Bara. “Kau,
mengakhiri semuanya tanpa tau apa yang akan terjadi selanjutnya, Nak!”
Ayah dan Bunda
Bara tampak lebih akur, menatap kepergian anak semata wayang mereka. Mereka
seperti terbangun dari tidurnya, dan tersadar bahwa anak mereka telah pergi. Untuk
mengenang Bara, Ayah dan Bunda di Bantu Gaza membuat pameran fotografi bertajuk
“Cerita Hitam Putih” yang memamerkan puluhan foto karya Bara tentang kehidupan
keluarga seharusnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar