Minggu, 07 Agustus 2011

Cerita Hitam & Putih


“Brak!” Terdengar pintu itu terbanting lagi. Lebih keras. Caci maki itu terdengar lebih kasar, lebih keras,dan lebih menyakitkan bagi Bara. Bara mengambil kamera kesayangannya, hadiah ulang tahunnya yang ke 17. Satu-satunya benda pemberian orang tuanya. Bara melangkah keluar dari kamar dan bersamaan dengan itu, seorang laki-laki keluar dari kamar di seberang meja makan. Pria itu menatapnya tajam. Ya, lelaki itu sudah 22 tahun ini ia panggil ‘Ayah’ tanpa tau apa gunanya memanggil lelaki itu ‘Ayah’ bila Bara merasa ia tak bisa mendapatkan sosok yang seharusnya dari seorang Ayah.

Lelaki itu melangkah keluar rumah dan beberapa saat setelahnya terdengar suara mobil meninggalkan rumah. Bara berjalan melewati kamar itu, terdengar suara isak tangis seorang wanita. Bunda. Wanita yang paling disayangi Bara. Satu-satunya harta yang Bara miliki walau Bunda tak selalu ada untuknya. Sibuk dengan segala urusan pekerjaan. Bara menghampiri Bunda, di belai halus rambut Bundanya.

 “Ayahmu memang tidak punya hati, Bara! Laki-laki kurang ajar! Bangsaaaaaat!” Tangis Bunda pun semakin meledak. Bara mendekap Bunda. Dada Bara kini sesak. Ia merasakan sakit yang Bunda rasakan. Selama ini Ayah jarang ada di rumah, pulang sesekali dan yang terjadi setiap Ayah pulang hanya perkelahian seperti yang terjadi hari ini. Bara benci Ayahnya. Bara tidak ingin kelak ia menjadi lelaki pengecut seperti Ayah.

Bunda sudah tenang, Bara menarik selimut dan mencium kening Bunda. Dibiarkan Bunda tidur setelah tadi Bunda tak henti-henti menghina lelaki yang dinikahinya itu. Menyesali pernikahan mereka. Bara meninggalkan rumah menuju tempat favoritnya. Taman kota. Di tempat ini Bara biasa menghabiskan harinya, mencari beberapa obyek foto, melepas penat dan menyalurkan hobi fotografinya. Tanpa Bara sadari, sepasang mata selalu mengamatinya.

Langit mulai gelap, Bara sudah selesai memotret beberapa obyek. Namun rasanya Bara enggan beranjak dari kursi taman ini. Bunda pasti pergi entah kemana, sibuk curhat sana-sini tentang masalahnya. Bara lebih suka menikmati matahari yang mulai lelah bersinar, beberapa orang sudah beranjak pergi dari taman. Yang tersisa hanya sepasang kakek nenek yang duduk berdua di seberang Bara. Mereka terlihat akur, romantis. Bara mengambil kameranya kembali, difotonya kakek nenek itu. Bara tersenyum, senyum yang lain. Seakan mentertawakan dirinya sendiri. Bintang mulai mewarnai langit, Bara menghela nafas panjang dan berjalan pulang. Mata itu masih mengamatinya. Memperhatikan langkah Bara dan tersenyum.

Bara mengarahkan motornya keaarah kampusnya. Seperti biasa, teman-temannya pasti sedang sibuk dengan tugas kuliah yang menumpuk, sibuk mencari refrensi hingga larut di perpustakaan kampus, mungkin Bara bisa membantu mereka. Sesampainya Bara di perpustakaan kampus, Gaza-sahabat Bara menyapanya.
“Bara Sebastian! What’s up Bro’?!” Bara hanya tersenyum simpul. Gaza sudah bisa menebak apa yang baru saja di alami sahabatnya ini. “Aduh, Bar! Pasti Bokap lo lagi kan? Pasti Bunda kena tampar lagi kan? Bokap pergi lagi?” Bara diam. Gaza sangat mengerti keadaan sahabatnya ini, setiap kali Ayah pulang, bertengkar, Bara pasti menemui Gaza. Bara jarang bicara tentang masalahnya, namun Gaza tahu sekali apa yang dirasakan sahabatnya ini, Gaza hanya bisa menenangkan Bara. Memberinya semangat dan mengingatkan Bara untuk tetap menjaga Bunda. Malam itu pun dihabiskan Bara untuk sekedar melupakan masalahnya.

Bara pulang dan mendapati mobil Ayah terparkir di halaman depan. Masalah lagi, pikirnya. Baru saja Bara mau membuka pintu, pintu itu sudah di buka dengan kasar dari arah sebaliknya. Ayah keluar menatap Bara. Bara menatap dalam mata Ayah.
“Apa kamu?! Mau melawan Ayah?”
Rahang Bara mengeras, giginya beradu. “Pengecut!” entah mengapa, tapi kata itu yang keluar dari mulut Bara.
“Ohh, sekarang kamu mau berlagak sok jagoan?! Merasa dewasa melawan Ayah? Urus saja sana Bunda-mu yang lemah dan tak berguna itu!”
“Hanya banci yang bisa bersikap kasar terhadap wanita. Dan itu Anda! Banci. Pengecut. Cih!” Bara menatap sinis Ayah, sambil melangkah masuk ke dalam rumah. Lagi-lagi Bunda terduduk di sofa sambil menangis, mengutuk suaminya. Kini Bara bahkan tak membelainya. Bara menuju kamarnya, mengambil beberapa barang-barang dan pergi meninggalkan rumah, meninggalkan Bunda.

Taman kota sore itu tampak lebih sepi dari biasanya. Bara mengeluarkan kameranya, memotret beberapa obyek foto. Seperti biasa Bara beristirahat di kursi ini. Karena hanya dari kursi ini, pemandangan taman kota terlihat lebih indah. Sepasang mata itu masih memperhatikan Bara. Mata tua yang lelah. Langit mulai memerah, Bara meninggalkan taman kota, menuju tempat cuci cetak foto langganannya, PhotoSpotz.

“Ehh, Mas Bara. Apa kabar, Mas? Udah lama ndak kelihatan. Kemana aja?” Sapa seorang pegawai PhotoSpotz.
“Baik, Mas Pri. Nggak kemana-mana kok. Biasa, sibuk kuliah.”
“Oh, ngono toh! Yo wiss, mana foto yang mau di cetak? Hitam putih seperti biasa kan, Mas?” Mas Pri sudah hafal betul bagaimana keinginan pelanggannya yang satu ini.
“Sip. Hitam putih semua! Makasih, Mas.” Bara memang selalu mencetak foto hasil karyanya dengan warna hitam putih. Setelah menunggu sekitar 45 menit, Mas Pri kembali dengan beberapa lembar foto.
“Nih, Mas. Udah siap. Eh, Mas, kenapa sih selalu nyetak foto hitam putih?”
“Karena kalau hitam putih, semua tampak lebih tegas. Makna dari foto itu sendiri pun akan lebih terlihat jelas.”
“Ooooooooh, lah terus kenapa obyek foto Mas Bara tuh, selalu keluarga, pasangan suami-isteri, atau anak-anak yang lagi main di taman?”
“Saya hanya ingin bahagia seperti mereka. Tapi yang saya rasakan justru hitam putih. Ya, hitam putih dunia saya. Ahh. Sudahlah, malah ngelantur omongannya. Makasih ya, Mas Pri. Salam untuk istri di rumah!”
Mas Pri hanya geleng-geleng melihat tingkah pelanggannya itu. “Anak muda zaman sekarang!” Batinnya.

Bara benar-benar tak ingin pulang. Ia tak sanggup bertemu Bunda. Tak sanggup melihat air mata Bunda. Malam ini, Bara kembali ke taman kota. Sebelumnya ia menelpon Gaza untuk mengambil beberapa baju di rumahnya dan membawakannya untuk Bara.

Taman kota sudah sepi. Bara duduk di kursi favoritnya. Pikirannya melayang. Membayangkan kebahagian yang tak pernah ia dapatkan dari keluarga. Sejak 3 tahun yang lalu, Bara bagai hidup sendiri. Walau ATM Bara selalu penuh terisi, oleh uang Ayah dan Bunda, tapi itu tak cukup bagi Bara. Bara hanya ingin kehidupan yang normal. Keluarga yang normal. Bara bahkan tak ingat bagaimana rasanya berlibur bersama keluarga, atau bahkan makan malam bersama di rumah. Bara kesepian. Hanya teman-teman, Kampus, dan kamera kesayangannya yang selalu menemani Bara.

Tiba-tiba seorang lelaki tua berpakaian compang-camping duduk di samping Bara. Terlalu larut dalam lamunannya, Bara bahkan tak menyadari keberadaan si lelaki tua di sampingnya.
“Ada masalah lagi, Nak?” Kata lelaki tua itu menatap ke arah langit yang kini penuh bintang. Bara terkejut dan baru menyadari keberadaan si lelaki tua ini.
“Maaf?” Bara tampak tak mengerti.
“Iya, ada masalah apa lagi hingga kau tak pulang malam ini?”
“Bagaimana kakek tau, saya punya masalah?”
“Tentu saya tau. Kau selalu ke taman ini, memotret dan menghabiskan waktumu saat kau ada masalah.” Kakek tersenyum sambil menatap Bara. “Dimana keluargamu, Nak? Apa mereka tak mencarimu?”
“Keluarga? Saya enggak punya keluarga. Bahkan saya enggak yakin tau apa itu.”
“Mana yang tak kau miliki, keluarga atau tempat berlindung?” Bara tampak bingung dengan pertanyaan kakek. “Kakek orang miskin, Nak. Kakek tak punya keluarga, tapi kakek punya mereka sebagai tempat berlindung, dan disitulah kakek mendapat kebahagiaan.” Kakek menatap kearah pohon rimbun tak jauh dari kursi itu. Disana ada sekumpulan gelandangan yang sedang tertidur pulas.
“Kalau begitu, saya enggak  punya tempat berlindung.” Bara memutuskan. Kakek tersenyum. “Saya tak tau mengapa harus saya yang merasakannya.”
“Semua tak seburuk yang kau bayangkan, Nak! Hidupmu masih panjang, kau masih punya harapan untuk hidup yang lebih baik. Masalah apapun yang ada di keluargamu, jadikan itu contoh. Hidup ini terlalu singkat untuk kau pikirkan terlalu keras.”
“Tapi kapan ini akan berakhir?”
“Drama kehidupan tidak akan berakhir jika kau masih bisa menghirup udara pagi di taman ini. Tuhan sudah membuat skenario kehidupan untuk kita, dan akhirnya hanya saat kita kembali padaNya.”
“Kalau begitu, saya yang harus mengakhirinya.” Bara pun meninggalkan kakek sendiri di kursi taman. Entah kemana tujuan Bara.

Saat Gaza datang, Bara sudah tak di taman.
“Iya sudah pergi, menyelesaikan kisahnya.” Ucap kakek kepada Gaza yang tampak bingung mencari Bara.

Siang itu, langit tampak mendung, suasana di taman pemakaman umum tampak ramai. Suara isak tangis orang-orang yang kehilangan keluarga, sahabat, dan kerabat mereka. “Bara Sebastian” itu yang tertulis di batu nisan. Bara benar-benar mengakhiri segala drama hidupnya. Di sudut lain TPU, mata tua itu menatap pemakaman Bara. “Kau, mengakhiri semuanya tanpa tau apa yang akan terjadi selanjutnya, Nak!”

Ayah dan Bunda Bara tampak lebih akur, menatap kepergian anak semata wayang mereka. Mereka seperti terbangun dari tidurnya, dan tersadar bahwa anak mereka telah pergi. Untuk mengenang Bara, Ayah dan Bunda di Bantu Gaza membuat pameran fotografi bertajuk “Cerita Hitam Putih” yang memamerkan puluhan foto karya Bara tentang kehidupan keluarga seharusnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar