Senin, 08 Agustus 2011

Behind Those Eyes

Bekerja di cafe bukan cita-cita Alila saat Ia memutuskan untuk meninggalkan Jogja dan merantau ke Jakarta. Bukan tidak mencintai Jogja, tanah kelahirannya, tapi Alila tidak bisa menunggu Radit lebih lama lagi. Setelah memohon Ibu dan Bapak untuk bisa kuliah di Jakarta, Alila merantau, berusaha mencari Radit. Tidak banyak informasi yang Ia punya untuk mencari sahabat kecilnya itu, hanya sebuah alamat. Tapi ketika Alila sampai di Jakarta dan mendatangi alamat itu, keluarga Radit tidak tinggal lagi disana. Kecewa. Namun sudah terlambat untuk Alila kembali ke Jogja.

Sudah setahun, Alila bekerja di cafe untuk tambahan biaya hidupnya di Jakarta. Biaya hidup di Jakarta memang jauh berbeda dengan Jogja, apalagi dengan segala kerterbatasan keluarganya, uang bulanan yang dikirim oleh orang tuanya hanya bisa untuk kebutuhan pokok kosan, belum jajan, belum biaya tak terduga. Bekerja di cafe ternyata menyenangkan, melihat banyak tipe orang. Ada pasangan, ada kumpulan ibu-ibu highclass arisan, anak muda, atau eksekutif muda yang mengadakan meeting santai disana. Selalu menyenangkan memperhatikan tingkah laku mereka. Tapi diantara semua itu, Alila selalu menanti pelanggan favoritenya, Tama. Setiap kali Tama memasuki cafe, Alila sudah siap di depan kasir untuk melayani, bahkan Alila sudah hafal apa yang akan dipesan oleh Tama. Caramel Macchiato.
”Selamat siang, bisa dibantu?” sapa Alila ramah.
”Siang, saya minta-” Tama melihat daftar menu yang ada.
”Caramel Macchiato?” potong Alila. Tama tersenyum manis.
”Haha, saya udah terlalu sering kesini ya? Sampe’ hafal gitu.” Alila tersenyum. ”Iya, Caramel Macchiato nya 1 ya, makasih Mbak-” dilihatnya nametag dibaju Alila. ”Alila.” Tama selalu duduk di tempat yang sama, datang di waktu yang sama, dan duduk sendiri menikmati matahari yang mulai lelah bersinar. Terkadang ada seorang wanita yang menemaninya, entah itu siapa, tapi terlalu tua untuk menjadi pacarnya. Wanita itu sering membawa tumpukan file dan menjelaskan isi file tersebut. Rekan kerja mungkin.

Kesibukannya kuliah sambil bekerja, tidak membuat Alila lupa akan tujuan utamanya pindah ke Jakarta, yaitu mencari Radit. Semua sudah Ia lakukan untuk mendapatkan informasi tentang keberadaan Radit. Dari semua teman Radit di Jakarta yang dihubunginya, hanya Barli yang berhasil Ia temui. Barli adalah teman SMA Radit. Tapi setelah lulus, Barli tidak pernah lagi mendengar kabar darinya. Ada yang bilang, Radit melanjutkan kuliah di luar negeri. Alila mulai putus asa, kehabisan akal apalagi yang harus Ia lakukan untuk bisa bertemu Radit.
”Kenapa Radit harus pergi tinggalin Alila? Radit marah ya sama Alila?”
”Nggak kok, Radit harus ikut Ayah ke Jakarta. Radit janji, Radit akan balik lagi ke Jogja untuk temenin Alila. Alila mau kan tunggu Radit pulang?” Alila mengangguk. Kelingking mereka pun terpaut. ”Janji ya, tunggu Radit.”Aku selalu pegang janji aku, Dit. Aku selalu tunggu kamu. Air mata membasahi pipi Alila, selalu seperti ini setiap Ia mengingat Radit. Saat itu Alila masih kelas 4 SD, sedangkan Radit kelas 1 SMP, tapi semua masih terekam jelas diingatan Alila. Barli memandang Alila dari kejauhan, tidak tega melihat Alila terus menerus larut dalam kesedihan. Dadanya sesak. Gue harus bisa nemuin Radit! Demi Alila.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, Barli belum menemui titik terang dari pencariannya. Alila masih menjalani harinya seperti biasa, kuliah dan bekerja. Sore itu seharusnya Tama datang ke cafe, tapi tidak hari ini. Sampai waktu bekerja Alila habis, Tama tidak juga muncul di cafe. Kemana dia? Alila berjalan pulang, Barli tidak bisa menjemputnya hari ini. Langit malam itu tampak terang dihiasi bintang, sesuatu yang jarang terjadi di Jakarta mengingat polusi sudah semakin parah. Alila duduk di taman dekat cafe, menikmati malam itu.
”Bagus ya, langit malem ini?” Alila terkejut mendengar suara itu. Alila melihat sekitarnya, tidak ada siapapun kecuali dirinya di taman.
”Siapa itu?!”
”Hantu.. hihihi” Suara itu terdengar familiar di telinga Alila. Tapi siapa?
“Ngaak lucu! Norak!” Alila mengambil tas, dan beranjak pergi.
“Galak juga ya ternyata mbak Alila..” Tama! Itu suara Tama. BUK!! Tama loncat dari atas pohon. “Dor!” Alila terkejut.
“Ka-kamu? Ngapain kamu diatas pohon gitu?”
“Hmm, ngapain ya? Cuma ngeliatin langit aja, dari atas sana kerasa lebih deket. Kamu mau pulang, Al?” Tanya Tama ramah. Alila mengangguk. ”Aku anter yuk.”
”Wah, enggak usah. Aku bisa pulang sendiri kok, lagian nggak jauh juga.” Alila melangkah pergi meninggalkan Tama. ”Makasih ya udah nawarin.”
Sejak malam itu, Tama dan Alila sering menghabiskan waktu diluar jam kerja cafe. Kekosongan di hati Alila sejak kepergian Radit, mulai terisi oleh Tama. Setiap kali melihat mata Tama, Alila merasa tenang dan nyaman, persis seperti ketika Ia bersama Radit. Hari-hari Alila kembali ceria, senyumnya kembali mengembang.

Barli terdiam, pikirannya kacau. Sebuah fakta tentang Radit telah ia dapatkan, tapi ini bukan yang Ia harapkan. Tidak untuknya, apalagi untuk Alila. Gimana cara ngasih tau Alila tentang ini? Barli melihat perubahan dalam diri Alila sejak Ia mengenal Tama. Walaupun Barli senang melihat Alila bahagia dan kembali ceria, tapi disudut hatinya, ada rasa sakit yang ia rasakan. Barli tidak ingin merusak kebahagiaan Alila dengan fakta yang Ia punya. Alila baru bisa senyum, apa harus gue kasih tau? Gue gak mau liat Alila nangis lagi. Gue sayang sama lo, Al, seandainya lo tau itu.

Tama membuka laptop nya, memandangi foto Alila. Lo bener-bener cewek spesial, Al. Nggak heran Radit sayang banget sama lo. Tiba-tiba kepala Tama sakit, matanya berdenyut. Ketika tersadar, Ia sudah ada di rumah sakit.
”Masih pusing, Tam?” tanya dokter Nova sambil memeriksanya. Tama hanya mengangguk kecil. “Kamu nggak boleh memforsir kerja mata kamu. Semua masih butuh latihan dan adaptasi yang nggak sebentar. Kalo di forsir, gini akibatnya.” Tama diam.

Hari itu Alila libur bekerja, Ia menghabiskan waktu bersama Barli. Sudah lama Ia tidak bertukar cerita dengan Barli sambil menikmati ice cream kesukaannya. Alila senang mempunyai seseorang seperti Barli, dia selalu bisa membuat Alila tertawa dengan segala tingakah konyolnya.
”Al, kamu masih suka inget Radit?” tanya Barli tiba-tiba. Alila berhenti menikmati ice cream strawberry-nya. Pandangannya lurus kedepan, pikirannya menerawang. “Aku nggak bermaksud bikin kamu sedih loh, Al.”
“Radit itu sahabat kecil aku, Bar. Pangeran masa kecil aku. Aku nggak akan pernah bisa ngelupain dia. Aku sayang sama dia. Kamu bisa liat, aku rela merantau sendirian ke Jakarta hanya untuk nyari Radit.” Alila menghela nafas panjang. ”Makasih banget ya, Bar. Kamu selalu nemenin aku, bantuin aku nyari Radit. Ya, walaupun sia-sia. Tapi aku seneng bisa kenal kamu.” Alila tersenyum tulus.
”Hmm, Al, sebenernya ada sesuatu yang mau aku kasih tau.” Barli mengatur setiap kata yang keluar dari mulutnya. Alila tampak menunggu kalimat selanjutnya. ”Ikut aku, yuk.” Alila bingung, ia sama sekali tidak tau akan dibawa kemana.

Mobil Barli berhenti di depan TPU. Perasaan Alila mulai tidak enak, mulai muncul banyak pertanyaan di benakknya. Barli berjalan menggenggam tangan Alila, menuju sebuah makam. Alila menangis, terduduk setelah membaca nama yang tertera di batu nisan itu : Raditya Akbar Hadiwijaja. Barli memeluk erat tubuh mungil Alila. Tangis Alila semakin keras, Ia tidak menyangka Radit meninggalkannya.
”Radit, kenapa kamu tinggalin aku? Kamu janji mau pulang.” ucapnya dalam tangis. ”Aku selalu pegang janji aku, aku tunggu kamu.” Barli memegang pundaknya.
”Radit nggak bohong, Al. Aku yakin kok, Radit berusaha pegang janjinya. Tapi takdir berkata lain, Tuhan punya rencana lain.” Mereka meninggalkan TPU. Selama perjalanan, Alila diam. Barli tidak mengarahkan mobil pulang, tapi menuju rumah sakit.

Alila tetap diam, mengikuti langkah Barli ke dalam salah satu kamar di rumah sakit itu. Pikirannya masih mengambang, dadanya masih sakit mengingat Radit. Di tempat tidur kamar itu, terbaring Tama. Apalagi ini? Kenapa Tama? Barli menarik tangan Alila. Tama tersenyum melihat kehadiran Alila.
”Hai, cantik.” sapa Tama. ”Kaget ya? Barli udah cerita semua.” Alila masih bingung dengan apa yang terjadi. Ditatapnya Barli.
”Ada satu hal lagi yang kamu harus tau, Al. Tentang Radit.” Barli duduk disamping tempat tidur Tama. ”Biar Tama aja yang jelasin, ya.” Alila diam, berdiri menatap kedua cowok dihadapannya itu.

“Waktu aku kuliah, aku kecelakaan. Parah banget, sampe aku kehilangan pengelihatan aku. Aku buta total. Saat itu aku bener-bener depresi, aku menyendiri, aku berenti kuliah, aku bahkan nggak mau keluar kamar.” Alila menyimak cerita Tama, Ia duduk di tepi tempat tidur Tama. ”Tapi suatu hari, aku dapet kabar dari rumah sakit, kalo ada orang yang bersedia mendonorkan matanya. Aku nggak bisa menahan bahagia. 2 minggu setelahnya, aku operasi dan berhasil. Aku sangat berterima kasih sama orang yang mendonorkan matanya ini, tapi pihak rumah sakit nggak ngizinin aku tau siapa orangnya.” Tama menghela nafas panjang. ”Sebulan setelah operasi, aku mulai sering mengalami hal aneh, mimpi-mimpi yang sama setiap malemnya. Kamu tau apa, Al?” Alia menggelengkan kepala, tanpa kata. ”Aku selalu mimpiin 2 orang anak kecil, duduk di sebuah pendopo. Yang cewek lagi nangis, dan yang cowok keliatan berusaha nenangin sampe’ akhirnya mereka berjanji sesuatu. Aku nggak bisa denger apa yang mereka bicarain.” Tama berhenti sejenak. Alila menitikan air matanya. Itu aku dan Radit. ”Mimpi itu terus aku alami sampai beberapa bulan. Tapi sejak aku liat kamu di cafe¸ mimpi itu berubah. Anak perempuan di mimpi aku itu, berubah, udah dewasa, dan itu kamu, Al. Aku akhirnya mencari tau tentang semuanya, aku yakin ada hubungannya dengan operasi mata aku. Akhirnya aku tau, orang yang mendonorkan matanya adalah Radit. Tapi saat aku coba datengin rumahnya, ternyata Radit meninggal dikecelakaan kereta menuju Jogja, beberapa hari sebelum aku operasi.” Lanjut Tama.

”Radit nepatin janjinya.” bisik Alila pelan. ”Dia mau pulang dan nemuin aku di Jogja. Radit nggak bohong, Bar.” Alila memeluk Barli sambil menangis. Tidak heran setiap kali Alila bersama Tama, Ia merasa Radit juga ada di dekatnya, karena mata yang memandangnya adalah mata yang sama yang selalu ingin dilihatnya.
Radit akan selalu jadi bagian hidup Alila, selamanya. Meskipun tidak lagi berada di dunia yang sama, tapi Alila bersyukur, Ia sudah mendapatkan jawaban dari segala pertanyaan di hatinya. Radit tidak pernah berbohong, Ia selalu ingin menepati janjinya pada Alila meskipun takdir berkata lain. Aku akan selalu sayang sama kamu, Dit. Kamu tetap pangeran kecil aku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar