Minggu, 07 Agustus 2011

What's Best Always Worth To Wait

Setiap orang pasti punya cinta pertama yang nggak akan dia lupain. Tapi apakah cinta pertama itu selalu jadi cinta sejati? Bagaimana kalau kita bahkan nggak pernah punya kesempatan untuk mengungkapkan perasaan kita ke cinta pertama kita, dan disaat kita sadar, semua udah terlambat.

Hidup Libby terlihat sempurna, walaupun bukan primadona di sekolahnya, atau siswi dengan segudang prestasi. Kepribadiannya memang unik, supel, ramah dan ceria. Tidak heran mulai dari satpam, penjaga kantin, penjaga perpustakaan mengenal baik sosok Libby. Ia tidak pernah merasa malu untuk sekedar ngobrol atau menyapa orang-orang disekitarnya. Bagi Libby, membuat orang tersenyum itu akan membuat harinya menyenangkan. Sejak duduk di bangku SMP, apapun yang Libby inginkan selalu ia dapatkan. Walaupun terkadang tidak mudah, tapi Ia selalu berusaha keras untuk mendapatkan apa yang menjadi keinginannya. Namun semua itu berubah ketika Libby masuk SMA. Mungkin Dewi Fortuna tak lagi di sampingnya. Kehidupan Libby mulai berubah, masalah demi masalah mulai muncul. Dimulai dengan perpisahan orang tuanya, nilai yang menurun, pertemanan, hingga kisah cintanya. Namun Libby tetaplah Libby, bisa menyelesaikan semua masalah, kecuali masalah pada dirinya sendiri. Ya, percintaannya.

Hadirlah sosok Rio di hidupnya, seseorang yang mulai mengubah dunia Libby. Pertemanannya dengan Rio berjalan sangat baik, Libby bisa bercerita apapun pada Rio. Namun, tanpa Libby sadari, Ia telah membuat cowok ini jatuh cinta padanya. Rio tidak pernah sekalipun mengungkapkan perasaannya pada Libby, Ia memilih diam dan setia menjadi ‘sekedar sahabat’ bagi Libby. Mendengar semua keluh kesah Libby, cerita konyol setiap harinya, membuat Rio selalu tersenyum saat berada di dekatnya. Hubungan mereka tidak pernah renggang, walaupun mereka tidak berada di lingkungan yang sama dan kesibukan mereka berbeda, namun keduanya nggak pernah absen berkomunikasi. Rio yang saat itu sibuk dengan segala formulir perkuliahan, dan Libby dengan jadwal sekolah yang mulai padat menjelang penjurusan di kelas 2.

Rasa nyaman yang dirasakan Libby mulai berubah, Ia mulai sedikit cemburu, sedikit khawatir, sedikit cemas saat Rio tidak memberi kabar. Libby jatuh cinta, itu yang dikatakan Fiona¬¬, sahabat Libby. Sejak awal, Fiona selalu bilang hubungan Libby dan Rio itu lebih dari sekedar sahabat, dan setiap itu pula Libby membantah. Tapi walaupun sebenarnya mereka mempunyai rasa yang sama, tidak pernah ada yang mau mengungkapkannya. Tidak Libby, tidak juga Rio. Mereka tetap menjalani hubungan ‘persahabatan’ itu.

Tahun berganti tahun, Rio sibuk dengan persiapan sidang skripsi untuk kelulusannya sedangkan Libby mulai disibukkan dengan keorganisasian kampus. Semua hal terlihat berkembang dan berubah, kecuali satu: hubungan mereka tetap di ‘zona aman’. Intensitas pertemuan mereka mulai berkurang, komunikasi pun hanya sebatas memberi kabar atau mengingatkan makan siang. Sebagai cewek seusianya, Libby mulai jenuh dengan hubungannya yang stagnansi dengan Rio. Sudah lebih dari 4 tahun hubungan itu tanpa kejelasan, selama itu pula Libby selalu menunggu kepastian dari Rio.

Dititik jenuh itu, Libby mengenal Gaza dari seorang teman lamanya. Obrolan demi obrolan, pertemuan demi pertemuan dengan Gaza mulai membuat Libby nyaman. Sosok Gaza sangat berbeda dengan Rio dimata Libby. Mereka punya cara berbeda untuk membuat Libby tertawa. Gaza selalu bisa membuat Libby merasa disayang, tanpa membuatnya manja seperti Rio yang selalu memanjakanya. Gaza tidak butuh waktu lama untuk menaklukan hati Libby yang sedang labil. Hari itu Libby menerima Gaza jadi pacarnya, tanpa Rio tau. Libby merasa, belum saatnya Rio tau hal ini, apalagi sidang skripsi Rio semakin dekat.

Hari-hari selanjutnya dijalani Libby seperti biasa, hubungan dengan Rio tetap baik, Ia bahkan mendampingi Rio saat sidang. Rio selalu bersyukur mempunyai Libby yang selalu bisa Ia andalkan dalam hal apapun. Tapi Rio terlalu takut mengungkapkan apa yang Ia rasakan, baginya lebih baik diam dan tetap merasa nyaman ada di dekat Libby sebagai ‘sahabat’ daripada harus kehilangan Libby suatu hari nanti karena kata perpisahan seperti ‘putus’. Namun tanpa disadarinya rasa ketakutan itu justru membuat Libby memilih Gaza. Malam itu Rio ingin marayakan kelulusannya bersama Libby, sekedar makan malam atau jalan-jalan keliling Jakarta tanpa tujuan seperti yang biasa mereka lakukan. Tapi semua rencana Rio kini hancur berantakan.

”Halo?”
”Libby! Siap-siap ya, bentar lagi aku jemput kamu. Aku mau traktir kamu nih.”
”Ha? Aduh, maaf banget, Yo, aku nggak bisa nih.. aku lagi nggak di rumah.”
”Oh gitu? Yaudah, kamu dimana? Nanti aku jemput disitu aja ya. Sama siapa kamu? Bunda? Nggak papa kok ajak aja Bun---” belum sampai Rio menyelesaikan kalimatnya, Libby memotong.
”Rio.. maaf ya, aku nggak bisa pergi malem ini. Aku nggak sama Bunda, aku lagi pergi sama pacar aku. Maaf banget ya, Rio.” Suara Libby melemah, merasa bersalah karena mengungkapkan semua disaat yang tidak tepat.
”Pacar? Hahaha.. jangan suka bercanda ah, kamu! Ayo dong, By, kamu aku jemput sekarang nih ya.”
”Aku tau, aku salah. Harusnya aku cerita sama kamu dari kemarin soal ini. Iya, Yo, aku udah punya pacar. Maaf banget ya, Rio. Aku janji, besok kita ketemu ya. Oke?” Tidak ada kata yang keluar dari mulut Rio. Semuanya kini benar-benar hancur dan berakhir. Ketakutannya terjadi, Ia kehilangan Libby. ”Yo? Kamu masih disitu kan? Halo?”
”Ah, Hmm? Iya, By. Masih kok. Yaudah, gampanglah, nggak usah dipaksain juga kalo’ emang besok juga nggak bisa. Oke deh, Have fun ya. Salam untuk cowok kamu. Bye, Libsky!” Rio berusaha tetap tersadar, menata kembali pikiran dan hatinya. Rio tak pernah menyangka semua terjadi seperti ini. Semua yang telah Ia lewati bersama Libby selama lebih dari 4 tahun terakhir ini harus selesai dengan cara seperti ini.

Sejak hari itu, hubungan Libby dan Rio benar-benar berubah. Tidak ada lagi kabar, atau cerita tentang interview pekerjaan dari Rio. Sesekali Libby mengirim pesan singkat untuk Rio, mengingatkan makan siang dan minum vitamin. Libby merasa bersalah, hatinya tidak tenang, khawatir dengan keadaan Rio. Libby tau betul bagaimana Rio, dia nggak akan menunjukkan kekecewaan atau kesedihannya di depan orang lain. Dia nggak pernah mau orang tau apa yang sedang dirasakannya, tapi Libby tau. Libby selalu tau, dan kini Libby merasa menjadi orang paling jahat karena telah melukai hati Rio. Bukan hanya karena malam itu Libby menolak ajakan Rio merayakan kelulusannya, tapi Libby merasa ada kekecewaan lain yang Rio rasakan. Tentang hubungannya dengan Gaza.

Gaza mulai merasa terganggu dengan sikap Libby yang dinilainya terlalu berlebihan. Gaza merasa ada sesuatu yang lebih dari persahabatan Libby dan Rio, karena bagi Gaza persahabatan lawan jenis itu tidak pernah ada yang murni. Mulai banyak pertengkaran diantara mereka, hal sekecil apapun bisa memicu pertengkaran dan Gaza selalu mengaitkan Rio disemua masalah. Gaza mulai mengontrol segala urusan Libby, semua yang Libby lakukan harus dengan izin Gaza. Libby tidak diperbolehkan berhubungan dengan Rio dalam bentuk apapun, bahkan Gaza memintanya bertukar handphone. Libby terpenjara oleh keposesifan Gaza. Sejak semua media komunikasi diawasi oleh Gaza, Libby hanya bisa menghubungi Rio via e-mail yang baru Ia buat dengan password yang tidak diketahui Gaza.

Rio tau Libby tidak bahagia, tapi Ia tidak bisa berbuat banyak. Ia tidak mau jadi pahlawan kesiangan, Ia yakin dengan kemampuan Libby untuk menyelesaikan masalahnya sendiri karena Libby selalu tau apa yang terbaik untuk semua orang. Rio cukup menjaga Libby dari jauh, dan memastikan bahwa kapanpun Libby membutuhkannya, Ia akan selalu ada.

Libby merindukan Rio, saat-saat seperti ini, Ia membutuhkan sosok Rio yang menenangkan dan setia mendengarkan segala keluh kesahnya dan memberi nasihat tanpa terkesan menggurui. Walau hanya terpaut 2 tahun lebih tua, tapi Rio mampu bersikap dewasa dalam menghadapi masalah. Kedewasaan seseorang memang tidak bisa diukur dari usia, karena usia merupakan sesuatu yang mutlak, sedangkan kedewasaan itu relatif, tergantung dari proses seseorang menyikapi setiap masalah yang Ia hadapi.

Rio tidak pernah benar-benar hilang dari hidup Libby. Walaupun sekarang Rio menjaga jarak dengan Libby, tapi dia selalu tau saat Libby membutuhkannya. Seperti malam itu, Libby menangis setelah pertengkaran hebat dengan Gaza dan berakhir putus, Ia sudah tidak tahan dengan sikap kasar Gaza yang mulai berani memukul atau membentak Libby saat bertengkar. Seakan bisa merasakan kesedihan Libby, Rio menghubungi Libby, tapi tak ada kata yang keluar dari mulut Libby. Hanya tangis. Rio juga diam, sampai akhirnya Libby tenang.

“Udah tenang, By? Sekarang tidur ya, istirahat. Besok aku kerumah kamu, nggak mau liat mata bola golf ya. Good night, Dear.”

Kini Libby tidak hanya merasa bersalah pernah menyakiti Rio, tapi Ia juga merasa bodoh menghabiskan 3 tahun dengan Gaza dan berfikir bahwa Gaza bisa berubah menjadi orang yang lebih baik. Libby tidak menyesal mengenal Gaza, semua dianggapnya proses pembelajaran untuk jadi lebih dewasa.

Hubungan Libby dengan Rio kembali seperti semula, di ‘zona aman’. Tidak ada yang mau membahas tentang kelanjutan hubungan ini, mereka memilih menjalani apa yang ada sekarang. Selama hampir 8 tahun mengenal Rio, baru kali ini Libby merasa sangat yakin dengan perasaannya terhadap Rio. Tapi ternyata kisah mereka belum berakhir bahagia seperti yang Libby bayangkan. Secara tiba-tiba Rio menghilang dari hidup Libby. Menghubungi Rio menjadi sangat sulit, bahkan orang-orang sekitar Rio pun tidak bisa diharapkan. Semua sekan menutupi keberadaan Rio. Libby berada di fase ini lagi, lowest point of love-life. Disaat Ia yakin dengan perasaannya, Rio menghilang tanpa ada penjelasan atau apapun. Libby hampir putus asa untuk mencari Rio. Sampai tiba-tiba Ia menerima pesan singkat dari Rio.

Libby.

Ya, pesan itu hanya berisi namanya. Dengan semangat dan merasa menemui titik terang, Libby membalas pesan itu. Libby minta maaf kalau memang kepergian Rio itu disebabkan olehnya. Tapi kemudian, seakan de javu, Libby tanpa sadar meneteskan air matanya, membaca pesan balasan dari Rio.

Maafin aku ya, akhir-akhir ini menghilang dari kamu. Bukan salah kamu kok, By. Aku yang salah. Maafin aku ya, tapi aku menghilang itu, karena aku udah punya pacar. Maafin aku, aku nggak pernah bermaksud apa-apa.

Libby yakin Ia sedang bermimpi. Mimpi terburuk yang pernah Ia alami, dadanya sesak, sakit luar biasa membaca pesan dari Rio. Apa ini yang dulu Rio rasakan saat dia tau tentang Gaza? Libby sudah tidak punya kekuatan untuk membalas pesan itu. Air mata terus membanjiri wajahnya. Terlalu banyak hal yang ada di benak Libby. Apa ini karma? Gimana Rio bisa menahan rasa sesakit ini dengan tetap berhubungan baik sama aku? Gimana caranya Rio bertahan dengan rasa sesakit ini liat aku sama Gaza, sedangkan sekarang aja rasanya aku ga kuat? Libby menyerah, Ia hanya membalas dengan ucapan selamat dan doa agar Rio bahagia. Malam itu, Libby hanya menangis dan berharap itu bisa mengurangi rasa sakit yang Ia rasakan.

Kehidupan baru untuk Libby, setiap harinya Ia harus membiasaakan diri tanpa Rio. Semua terasa berbeda tanpa keberadaan Rio. Libby rindu kebersamaan mereka, kebiasaan ‘pergi-tanpa-tujuan’ yang selalu mereka lakukan. Tapi semua harus Libby jalani. Kalau dulu Rio mampu bertahan menahan segala rasa sakit dan kecewanya melihat Libby bersama Gaza selama 3 Tahun, Libby merasa dia juga harus bisa. Mungkin Libby tidak mati karena kehilangan Rio, Ia hanya tidak bisa berjalan setegap dulu. Tapi ini baru tahun pertama nya, masih banyak kemungkinan yang bisa terjadi. Kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi kedepannya, jika menunggu adalah hal terbaik yang bisa Ia lakukan saat ini, maka Ia akan bersabar. Karena sesuatu yang baik itu tidak akan didapatkan dengan mudah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar