Minggu, 07 Agustus 2011

You Can't Keep What's Not Yours


Bagi Karel konsistensi dalam suatu hubungan jauh lebih penting daripada harus berkomitmen, karena saat kita menjalani hubungan secara konsisten, itu merupakan bentuk komitmen kita pada orang tersebut. Seperti hubungannya dengan Taya. Sudah 2 tahun mereka menjalani konsistensi hubungan. Karel tidak pernah mau terikat oleh status atau komitmen, cukup kepercayaan dan konsistensi.

Perkenalan mereka terjadi saat Taya diminta Ayah untuk mengantar dokumen penting yang tertinggal ke kantor. Karel adalah Marketing Manager di kantor Ayah, salah satu pegawai favorite Ayah karena kinerjanya yang sangat baik. Siang itu Taya bergesa-gesa mengantar dokumen untuk Ayah karena sudah ditunggu editor majalah tempatnya bekerja. Deadline. Taya berlari kearah ruangan Ayah dan tidak sengaja menabrak Karel yang baru saja membuat kopi, alhasil kemeja biru Karel berubah hitam noda kopi.
“Aduh! Maaf banget ya, Mas. Maaf banget, saya enggak sengaja. Saya buru-buru banget nih soalnya. Deadline~” Taya sibuk membersihkan kemeja Karel dengan tissue.
“Lain kali kalo jalan, mata juga dipake yang bener.” Ucap Karel ketus sambil berlalu pergi, meninggalkan Taya terbengong-bengong. Dih! Siapa sih dia? Songong banget gayanya! Belagu! Sampai diruangan Ayah, Taya langsung menanyakan siapa cowok belagu tadi. Belum sampai Ayah menjawab, pintu ruangan terbuka, Karel masuk memegang beberapa dokumen yang harus ditandatangani oleh Ayah. Karel melihat Taya, tanpa senyum. Setelah semua dokumen ditandatangani, Karel pamit pergi, ”Oh iya, Rel, sudah kenal dengan anak saya?” Ayah melihat Taya. ”Kenalan dong Ta, ini Karel.”

Sejak saat itu mereka sering bertemu dan menjadi semakin akrab hingga akhirnya hubungan ini berjalan 2 tahun. Tidak pernah ada istilah menyatakan perasaan, semua dijalani apa adanya. Pernah Taya menanyakan tentang hubungan mereka, Karel hanya menjawab, ”Aku nyaman ada di dekat kamu, kita sama-sama berbuat baik satu sama lain. Status bukan segalanya, Tay. Kalo emang serius, cukup jalanin secara konsisten dan saling percaya aja.” Taya diam. Tidak mudah bagi Taya menjalani semua ini, dia harus belajar menerima Karel dengan pola pikirnya yang aneh itu tapi seiring berjalannya waktu Taya mulai mengerti maksud Karel. Tanpa komitmen dan status, mereka bebas mengungkapkan apa yang mereka rasakan, bebas bergaul dengan siapapun tanpa harus ada yang merasa cemburu, tidak harus meminta izin siapapun untuk melakukan apapun, tidak harus ada kebohongan atau sakit hati.

Sifat Taya yang supel dan periang, membuatnya mudah dekat dengan siapapun. Tidak heran banyak cowok yang berusaha mendekatinya. Tapi Taya menanggapinya santai, semua teman baginya. Berbeda dengan Taya yang supel dan periang, Karel cenderung diam dan sibuk dengan dunianya sendiri. Karel seorang workaholic, baginya kesuksesan itu adalah dari diri sendiri dan harus dihasilkan oleh keringatnya sendiri. Dia terbiasa mendapatkan apapun dengan usahanya sendiri. Itu yang membuat cewek tergila-gila dengan sosok suami idaman seperti Karel.

Tidak pernah ada masalah berarti dalam hubungan mereka, karena semua tidak pernah diambil pusing oleh keduanya. Namun semua itu berubah saat Abel, cinta pertama Taya pulang ke Indonesia setelah melanjutkan studi dan bekerja di German selama 5 tahun. Kepulangan Abel membuat Karel berubah. Entah kenapa, Karel mulai merasa tersaingi. Abel terlihat sangat akrab dengan Taya. Waktu Taya kini habis untuk menemani Abel, mulai dari mencari apartement, dan mengurus keperluannya di Indonesia hingga sekedar menikmati sore di cafe.

Taya mulai merasakan perubahan pada diri Karel. Sikap Karel kini berbeda, dia cenderung sinis dan tidak mau tau dengan segala rutinitas Taya. Padahal biasanya, walaupun tidak mendapatkan kabar 24jam dari Taya, tapi Karel selalu terlihat antusias mendengar cerita keseharian Taya. Tidak hanya itu, sekarang Karel banyak menolak ajakan Taya. Tidak makan siang bersama, tidak ke café, tidak ke acara kantor, Karel mulai menjaga jarak. Taya menyerah, dia membiarkan Karel menikmati kesendiriannya.

Karel termakan oleh prinsipnya sendiri, dia merasa posisinya direbut oleh Abel. Lebih parah, dia merasa bahwa Abel telah merebut Taya darinya. Gue enggak boleh mikir gini, Taya bukan pacar gue. Taya punya hak jalanin hidupnya dengan siapapun! Ayo, Rel, ini semua lo yang bikin! Sadar dong! Karel berusaha melawan pikiran dan perasaannya sendiri. Dia tidak bisa menyalahkan Taya, karena sejak awal inilah perjanjian mereka. Konsistensi tanpa komitmen, artinya masing-masing punya hak pribadi yang tidak bisa dicampuri.
Bukan hanya Taya yang merasakan perubahan Karel, Ayah pun begitu. Karel sering murung di kantor, pekerjaannya jadi tidak fokus. ”Karel, duduk dulu sebentar, saya mau bicara.” Karel memeriksa dokumen yang baru selesai ditandatangani oleh Ayah, takut ada yang salah. ”Bukan tentang pekerjaan.” lanjut Ayah.
”Oh, ada apa ya, Pak?”
“Hmm, begini, belakangan ini saya perhatikan, kamu sering murung di kantor. Bekerja jadi tidak fokus, apa kamu sedang ada masalah? Mungkin di keluarga, kantor atau di ligkungan pertemananmu?” Karel tertunduk, menghela nafas.
”Enggak ada kok, Pak. Semua baik-baik saja. Maaf kalo belakangan saya enggak fokus, cuma kecapean aja kok.” Elaknya.
”Apa ada hubungannya dengan Taya dan kepulangan Abel? Saya perhatikan sejak Abel pulang, kamu dan Taya jadi jarang bersama. Ada masalah?”
”Wah, bukan kok Pak. Taya juga lagi sibuk, saya juga masih banyak pekerjaan, jadi emang agak susah ketemu aja.” Iya, Pak. Saya mulai mencintai anak bapak.
”Yasudah kalau begitu, jangan sampai masalah pribadi mengganggu pekerjaan di kantor ya. Dan.. saya juga berharap hubungan kamu dengan Taya baik-baik saja. Saya percaya, kamu bisa menjaga Taya.” Karel pamit dari ruangan Ayah. Kata-kata Ayah membuatnya semakin keras berfikir. Apa gue siap kehilangan Taya? Gue nggak boleh kehilangan Taya. Gue harus dapetin Taya lagi!

Taya memandangi fotonya bersama Karel, ada rasa rindu dalam hatinya. Sejak ada Abel, Taya sulit bertemu Karel, bahkan sekedar menelfon saja, tidak sempat. Lusa adalah hari ulang tahunnya. Taya berharap Karel tidak lupa, dan bisa menyempatkan hadir. Karel tidak pernah tau apa yang Taya rasakan, bagaimana Taya selalu berusaha menjaga janjinya untuk menjalankan konsistensi dalam hubungannya dengan Karel. Walaupun kadang sulit untuk Taya bersikap acuh terhadap apapun yang Karel lakukan, atau saat dia harus menahan cemburu pada cewek-cewek yang berusaha mendekati Karel. Dia selalu berusaha mengerti pola pikir Karel yang abstrak, karena Taya tidak mau kehilangan Karel.

Rumah Taya tampak ramai oleh tamu undangan ulang tahunnya, teman, sahabat, kerabat dan kolega kantor Ayah juga hadir untuk merayakan ulang tahun Taya ke 25. Abel sudah datang, tapi bukan Abel yang ditunggu oleh Taya. Beberapa kali Taya coba menghubungi Karel, tapi sia-sia, handphone Karel tidak aktif. Malam semakin larut, acara harus tetap berjalan. Lilin angka 25 tahun sudah menyala, semua bersorak menyanyikan lagu untuk Taya, tapi dia masih gelisah, matanya terus menyapu sekelilingnya. Mencari sosok Karel. Sia-sia. “Ayo tiup lilinnya! Make a wish dulu!” seru beberapa teman. Taya memejamkan mata, menyebutkan permohonannya dalam hati. Ya Tuhan, aku ingin Karel bisa mendampingi aku saat ini dan selamanya. Saat Taya membuka matanya, Karel tersenyum simpul di hadapannya. Taya tersenyum lega. Setelah pembagian kue, semua kembali menikmati acara.

Taya berjalan menghampiri Karel yang duduk di tepi kolam renang. Tapi tiba-tiba Abel menarik tangan Taya. ”Tay, tunggu. Aku mau ngomong sama kamu. Penting.” dari kejauhan, Karel memperhatikan apa yang sedang terjadi.
”Aduh, sebentar ya, Bel. Aku harus ketemu Karel sebentar. Tunggu ya nanti aku-”
”Tapi ini penting banget, Tay.” Abel menatap mata Taya, menggenggam tangannya. Taya mengalihkan pandangan kearah kolam renang, tapi Karel sudah tidak ada. Ah! Kemana Karel?
“Oke, ada apa Bel?” Taya mulai kesal. Belum sempat Abel menjawab, sebuah video terpasang. Video berisi foto-foto kebersamaan Karel dan Taya. Semua terkemas indah dalam video itu. Taya tak mampu menahan harunya.

Karel muncul dari arah layar video. “Mungkin aku adalah orang paling bodoh karena memaksa kamu mengikuti prinsipku dalam berhubungan. Aku terlalu naïf untuk mengakui perasaanku sendiri. Tapi seorang bijak pernah berkata ‘You can’t lose what you never had; keep what’s not yours, or hold on to something that doesn’t want to stay’. Well, kenyataannya adalah, I don’t wanna lose you, I want to keep you, and I want you to stay with me.” Karel sampai dihadapan Taya, tersenyum dan menghapus air mata haru dipipi Taya. “Aliana Taya Putri, will you marry me?” Karel bersimpuh dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi cincin. Taya benar-benar menangis dan tak bisa berkata apa-apa selain memeluk Karel erat, dan berbisik “I do.”

Abel melihat kotak kecil yang Ia pegang sejak tadi. Ini untuk kamu, Tay. Kotak itu kembali Ia masukkan kedalam jas. Abel beranjak pergi, meninggalkan keramaian tamu undangan yang bersorak merasakan kebahagiaan Taya. Karel menyadari kepergian Abel, Ia berlari mengejar Abel. ”Bel, tunggu!” Abel berhenti. “Makasih ya, lo udah bikin gue sadar kalo gue gak bisa jauh dari Taya.” Karel tersenyum.
Abel menepuk pundak Karel, “Selamet ya, Rel. Lo pantes kok, dampingin Taya. Gue titip Taya, jangan sampe lo sakitin dia. Taya cewek luar biasa.” Karel mengangguk.

Kini Karel sadar bahwa komitmen merupakan bagian terpenting dalam sebuah hubungan. Kalau saja Abel nggak pulang, mungkin Ia akan tetap pada prinsip konsistensinya, dan tidak menutup kemungkinan, Taya menjadi milik orang lain. Itu akan menjadi penyesalan Karel seumur hidupnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar